New Policy: Mengapa Fraud Gift Card Sulit Terdeteksi?
d Gift Card Sulit Terdeteksi New Policy - Penipuan berbasis gift card —voucher berisi saldo yang bisa digunakan untuk pembayaran—semakin merusak industri
New Policy: Mengapa Fraud Gift Card Sulit Terdeteksi
New Policy – Penipuan berbasis gift card—voucher berisi saldo yang bisa digunakan untuk pembayaran—semakin merusak industri e-commerce dan pembayaran digital di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya menurunkan pendapatan peritel, bank, dan platform loyalitas, tetapi juga memperumit pengelolaan risiko keuangan dalam era transaksi yang semakin mengandalkan teknologi. Padahal, banyak kelemahan dalam sistem deteksi saat ini membuat skema penipuan ini terus berkembang tanpa terdeteksi secara dini.
Mekanisme Penipuan yang Menyembunyikan Diri
Penipuan gift card sering kali terjadi melalui skema yang sangat halus, bahkan sulit diduga. Modus ini memanfaatkan kelemahan proses bisnis yang seharusnya terjamin, seperti penggunaan data pribadi atau kebocoran sistem. Dalam keterangan tertulis, CEO Zentara, Regal Star, mengungkapkan bahwa kebanyakan penipuan tidak terdeteksi karena transaksi tampak seperti aktivitas normal, seperti pembelian atau penggunaan voucher di toko ritel.
“New Policy yang saat ini berlaku tidak cukup mengakomodir kompleksitas modus penipuan baru, terutama yang melibatkan AI,” jelas Regal. Ia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan masih mengandalkan metode tradisional, seperti sistem antifraud sederhana, untuk mengidentifikasi kecurangan, sehingga mereka sering kali terjebak dalam kebingungan.
Kondisi Pasar Gift Card di Indonesia
Industri gift card di Indonesia tengah berkembang pesat. Menurut “Indonesia Gift Card Business and Investment Opportunities Databook”, nilai pasar nasional mencapai US$2,37 miliar pada 2025 dan diperkirakan tumbuh hingga US$3,68 miliar pada 2030. Namun, pertumbuhan ini juga menimbulkan ancaman baru yang mengharuskan New Policy diadopsi lebih luas.
Dalam skala global, pasar gift card diperkirakan mencapai US$1,2 triliun setiap tahun. Pertumbuhan ini semakin memperbesar risiko penipuan karena lebih banyak transaksi digital yang dilakukan secara tidak terawasi. New Policy, sebagai upaya mengatasi masalah ini, diharapkan bisa memperkuat perlindungan terhadap aset pelanggan dan sistem pembayaran.
Modus Penipuan yang Berkembang
Studi Zentara menunjukkan bahwa metode penipuan gift card kini lebih mengandalkan proses bisnis yang sah. Pelaku mengeksploitasi tahapan sepanjang siklus hidup voucher, mulai dari pembuatan, pemasangan di toko ritel, hingga penukaran. Salah satu skema yang dominan adalah pengambilan data kartu sebelum aktivasi, sehingga pendapatan yang seharusnya diterima penerima hadiah bisa hilang tanpa terdeteksi.
“New Policy yang berlaku belum cukup menyelaraskan dengan kecepatan perubahan teknologi dan perilaku pelaku kejahatan,” kata Regal. Ia menekankan bahwa kebanyakan penipuan modern kini meniru transaksi sah, sehingga lebih sulit terdeteksi. Dengan adanya New Policy, perusahaan bisa mengembangkan sistem pemantauan yang lebih canggih, termasuk penggunaan AI untuk mengidentifikasi pola kecurangan.
Implementasi New Policy dalam Praktik
Untuk mengurangi risiko kerugian, New Policy diusulkan sebagai bentuk regulasi baru yang fokus pada pengawasan aset pelanggan. Regal menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan harus melatih karyawan untuk mengenali transaksi tidak wajar, seperti pembelian voucher dalam jumlah besar tanpa alasan jelas. Selain itu, New Policy juga menyarankan penggunaan teknologi analitik untuk memantau aktivasi hingga penukaran voucher secara real-time.
Darian Kuswanto, President dan Co-Founder Zentara Technologies, menjelaskan bahwa New Policy akan memberikan kerangka kerja yang lebih jelas bagi pengusaha. “Melalui New Policy, kita bisa membangun sistem pencegahan yang tidak hanya menangani kecurangan teknis, tetapi juga berbasis perilaku manusia,” katanya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini juga mendorong kolaborasi antara platform pembayaran, pemerintah, dan industri ritel dalam mencegah fraud.
Langkah-Langkah untuk Meningkatkan Keamanan
Menurut laporan e-Conomy SEA 2024 oleh Google, Temasek, dan Bain, nilai transaksi digital Asia Tenggara mencapai US$263 miliar pada 2024. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya New Policy dalam mengamankan aset pelanggan. Dengan menerapkan kebijakan baru ini, perusahaan dapat mengurangi kerugian hingga 40% dari total transaksi digital.
Regal Star memperingatkan bahwa tanpa New Policy, penipuan gift card bisa terus berkembang. “New Policy adalah solusi terintegrasi yang melibatkan pelatihan karyawan, teknologi analitik, dan kebijakan pengawasan yang lebih ketat,” ujarnya. Ia mencontohkan bahwa dalam skenario terburuk, penggunaan AI bisa mempercepat proses penipuan, sehingga kebijakan ini harus segera diadopsi untuk menghindari kerugian besar.
