Live voltage Agustus 3, 2026
Power Radar
Tekno

Latest Program: Rencana Deorbit ISS ke Laut Tuai Kritik Pemerhati Lingkungan

Michael Anderson - kabarsaji.com 3 mins read 14 views

na Deorbit ISS ke Laut Latest Program - Program terbaru NASA yang menargetkan penutupan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) melalui deorbit ke Samudra

Latest Program: Rencana Deorbit ISS ke Laut Tuai Kritik Pemerhati Lingkungan

Latest Program: Kritik Terhadap Rencana Deorbit ISS ke Laut

Latest Program – Program terbaru NASA yang menargetkan penutupan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) melalui deorbit ke Samudra Pasifik menjadi sorotan pemerhati lingkungan. Proses ini, yang merupakan bagian dari Latest Program untuk menyelesaikan pengoperasian ISS, menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak lingkungan laut yang mungkin terjadi. Ocean Foundation, organisasi konservasi internasional, mengkritik langkah tersebut karena belum sepenuhnya mempertimbangkan risiko terhadap ekosistem samudra.

Proses Deorbit ISS dan Timeline Rencana

Rencana deorbit ISS diumumkan oleh NASA sebagai bagian dari Latest Program pengelolaan antariksa. Stasiun luar angkasa ini akan diisolasi dari orbitnya pada 2028 menggunakan gesekan atmosfer Bumi dan bantuan segmen Rusia. Kemudian, pada pertengahan 2029, wahana deorbit USDV dari SpaceX akan terhubung ke ISS untuk mengarahkannya ke Samudra Pasifik. Titik jatuhnya dipilih di Point Nemo, daerah laut yang jauh dari zona penduduk, agar mengurangi bahaya bagi manusia.

Konsep Latest Program ini dirancang untuk memastikan bahwa puing antariksa tidak menumpuk di atmosfer luar angkasa. Proses deorbit akan menghancurkan sebagian besar ISS, sehingga hanya sedikit material akan mencapai permukaan Bumi. Namun, para ahli lingkungan mempertanyakan keberlanjutan langkah ini, terutama karena efek jangka panjang terhadap lingkungan laut.

Kritik dari Ocean Foundation

Mark Spalding, presiden Ocean Foundation, menyoroti bahwa pilihan laut sebagai tempat deorbit ISS masih kurang memadai dalam konteks perlindungan lingkungan. Menurutnya, keputusan NASA untuk mengandalkan laut sebagai tempat pembuangan puing antariksa dalam Latest Program tidak sepenuhnya sesuai dengan standar perlindungan ekosistem. “Laut dan makhluk hidup di dalamnya layak dilindungi seperti daratan,” tegas Spalding, menambahkan bahwa dampak lingkungan laut belum dianalisis secara menyeluruh.

“Meskipun titik jatuh di Point Nemo dianggap aman, Latest Program ini justru menciptakan ketergantungan pada keputusan antariksa tanpa pengawasan lingkungan yang ketat,” papar Spalding. Ia menyoroti bahwa hukum internasional tidak menjamin perlindungan lingkungan laut yang sama seperti untuk wilayah daratan, sehingga potensi kerusakan ekosistem tetap menjadi ancaman.

Spalding juga menekankan bahwa Latest Program NASA tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga menyebabkan ketidakadilan dalam tanggung jawab lingkungan global. “Jika puing antariksa menyebabkan kerusakan di wilayah satu negara, pihak yang meluncurkan harus bertanggung jawab. Namun, dalam Latest Program ini, keputusan deorbit dibiarkan terbuka tanpa mekanisme pemulihan yang pasti,” jelasnya. Ia meminta evaluasi lebih lanjut sebelum rencana ini diterapkan secara resmi.

Proses deorbit ISS dalam Latest Program ini diperkirakan akan menyebabkan penurunan partikel dan material yang mengancam kehidupan laut. Spalding mengingatkan bahwa dampak ini bisa terjadi secara berkala, sehingga ekosistem dasar samudra, seperti terumbu karang dan komunitas plankton, bisa terganggu. “Kita harus mempertimbangkan bahwa Latest Program ini bukan hanya solusi sementara, tetapi juga tindakan permanen yang memerlukan rencana pengelolaan lingkungan yang komprehensif,” tambahnya.

“Dalam Latest Program ini, NASA mengabaikan Perjanjian Laut Lepas yang menetapkan kewajiban lingkungan bagi negara-negara yang mengoperasikan puing antariksa. Dengan menargetkan deorbit ke laut, mereka menciptakan kebijakan yang kurang transparan,” kata Spalding. Ia menekankan perlunya revisi kebijakan lingkungan global untuk menyesuaikan dengan tantangan baru dari misi luar angkasa.

Selain itu, Ocean Foundation mengkritik cara Latest Program ini memperhitungkan keterlibatan pihak internasional. Mereka menyarankan penggunaan teknologi alternatif, seperti pemanfaatan daerah daratan atau pengelolaan puing antariksa secara terpusat. Dengan demikian, dampak lingkungan dapat dikurangi, dan tanggung jawab negara-negara yang terlibat dalam proyek ISS akan lebih jelas. Rencana deorbit ISS dalam Latest Program ini juga diharapkan memicu diskusi global tentang keberlanjutan eksplorasi luar angkasa.

Gabung diskusi