Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Tekno

Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit Sebelum Puncaknya

Michael Anderson - kabarsaji.com 3 mins read 14 views

Sampai tanggal 21 Juli 2026, akumulasi titik api kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menembus angka 80 ribu. Statistik ini mencatatkan rekor

Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit Sebelum Puncaknya

Kenaikan Hotspot dan Luas Karhutla Terdeteksi Lebih Awal dari Puncak Musim

Kabarsaji.com – Sampai tanggal 21 Juli 2026, akumulasi titik api kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menembus angka 80 ribu. Statistik ini mencatatkan rekor tertinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan melampaui kondisi pada 2019 dan 2023 yang dikenal sebagai tahun-tahun dengan kebakaran besar.

Dari sisi luas area, sekitar 103 ribu hektare tanah telah hangus terbakar. Provinsi Nusa Tenggara Timur memimpin dengan 25.466 hektare, diikuti Kalimantan Barat seluas 20.432 hektare, serta Riau yang mencapai 11.525 hektare. Meskipun angka tersebut masih jauh di bawah total 2,63 juta hektare yang terbakar sepanjang tahun 2019, kondisi ini patut dicermati karena belum memasuki masa puncak historis peningkatan karhutla.

Masa kritis biasanya terjadi bersamaan dengan puncak musim kemarau, yakni pada Agustus, September, hingga Oktober.

Sumber Data dan Analisis Awal

Informasi tersebut dikumpulkan melalui FireWatch, sebuah dasbor terbaru yang terintegrasi dalam platform peta analitik satelit Nusantara Atlas. Platform ini berfungsi memonitor kemajuan musim kebakaran di seluruh Indonesia.

Data hotspot diakumulasi dari hari ke hari menggunakan citra empat satelit dan kami ambil semua titik dari yang high sampai low confident, jelas David Gaveau dari TheTreeMap, perusahaan teknologi pemilik platform Nusantara Atlas, pada Selasa, 21 Juli 2026.

Menurut David Gaveau, kebakaran besar di Nusa Tenggara Timur berasal dari savana di Pulau Sumba. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini tergolong normal karena terjadi berulang di lokasi yang sama setiap tahun selama musim kemarau.

Namun, angka kumulatif hotspot yang melampaui periode Januari-Juli pada tahun 2019 hingga 2025 dipandang sebagai sinyal peringatan dini. Hal ini mengingat saat ini Indonesia belum sepenuhnya masuk ke dalam periode puncak kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi Khusus di Papua Selatan

Papua Selatan menjadi sorotan utama karena menempati peringkat keempat nasional, baik berdasarkan aktivitas hotspot maupun luas area terbakar selama semester pertama 2026. Analisis FireWatch menunjukkan bahwa musim kebakaran di wilayah tersebut dimulai lebih cepat dari biasanya.

Web Nusantara Atlas mencatat bahwa kondisi ini menjadi perhatian khusus, terutama di wilayah pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Papua Selatan, yang diperkirakan menghadapi peningkatan risiko kebakaran.

Salsabila Khairunnisa, Spesialis Pantau Gambut dari Social Research and Policy Analysis, juga mengonfirmasi adanya anomali di Papua Selatan. Ia menyebutkan bahwa lonjakan titik api cukup tinggi terjadi pada bulan tersebut.

Tim riset spasial Pantau Gambut telah menghitung ada 757 hotspot yang pada musim karhutla di Indonesia tahun-tahun sebelumnya tidak pernah muncul di Papua Selatan, ungkapnya pada Kamis pekan lalu.

Kekhawatiran Salsabila juga tertuju pada ekspansi proyek food estate Presiden Prabowo Subianto ke wilayah tersebut. Ia menambahkan bahwa Papua Selatan memiliki sebaran Kesatuan Hidrologis Gambut yang cukup luas.

Kami khawatir apa yang terjadi pada 1997-98 lalu berulang dengan locus yang sekarang dikembangkan di Papua Selatan, tegasnya.

Perbandingan Data dan Prediksi El Niño

Dalam publikasi terbarunya, Pantau Gambut mencatat telah terjadi 30 ribu hotspot karhutla sepanjang Januari-Juni 2026. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, musim El Niño 2023 mencatatkan 7.181 hotspot, musim El Niño 2019 sebanyak 23.300, dan tahun 2015 sebanyak 16.164.

Sementara itu, Erma Yulihastin, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa fenomena El Niño telah memasuki fase kuat. Fase ini ditandai dengan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur yang telah mencapai +1,5 derajat Celsius.

Mengutip pemodelan iklim NOAA, Erma memprediksi bahwa El Niño Super atau sangat kuat dengan suhu +2 derajat Celsius atau lebih berpeluang besar dimasuki mulai Agustus nanti dan akan berpuncak pada periode Oktober-November-Desember.

Sebagai profesor klimatologi, Erma secara khusus memperingatkan bahwa wilayah Kalimantan paling responsif terhadap dampak kekeringan yang dibawa oleh El Niño.

Gabung diskusi