Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Seleb

Topics Covered: Kisah Romeo and Juliet Ala Bugis di Panggung

Mark Martin - kabarsaji.com 3 mins read 14 views

Kisah Romeo and Juliet Ala Bugis di Panggung Topics Covered: Senior koreografer Wa Ode Siti Marwiyah Sipala, dikenal sebagai Wiwik Sipala, berusia 73 tahun

Topics Covered: Kisah Romeo and Juliet Ala Bugis di Panggung

Kisah Romeo and Juliet Ala Bugis di Panggung

Topics Covered: Senior koreografer Wa Ode Siti Marwiyah Sipala, dikenal sebagai Wiwik Sipala, berusia 73 tahun, baru saja menghadirkan versi khas dari cerita Romeo and Juliet dalam bentuk pertunjukan panggung yang menyatukan sastra lisan, tata gerak, dan musik tradisional serta kontemporer. Pentas ini digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada 18 Juni 2026, mengusung konsep yang memadukan tradisi lokal Bugis-Makassar dengan nuansa modern, sehingga menjadi pengalaman seni yang unik dan memikat.

Interpretasi Budaya yang Membawa Nuansa Baru

Wiwik Sipala, dalam keterangannya kepada Tempo, Ahad 21 Juni 2026, mengungkap bahwa ia mengeksplorasi ruang tafsir secara simbolis dalam karya ini. “Topics Covered pada pentas ini menggambarkan hubungan cinta, kehormatan, dan pilihan dari perspektif dialog antara tradisi masa lalu yang mengikat dan masa kini yang membebaskan,” katanya. Dalam adaptasinya, kisah cinta antara Maipa Deapati dan I Mangalaksa dari Kerajaan Selaparang Lombok diistana Kesultanan Sumbawa tidak hanya diangkat secara dramatis, tetapi juga diberi makna dalam konteks budaya Bugis yang kaya akan ritual dan simbol.

Pentas ini menghadirkan pendekatan kreatif dalam menyampaikan cerita. Sebagai contoh, adegan pinangan awal ditampilkan dengan penampilan Maipa Deapati, diperankan oleh Rizki D. Manippi, yang duduk sambil menggesek rebab. Suara alat musik tradisional ini menciptakan suasana lembut yang menggambarkan keharmonisan antara dua budaya. Di sisi lain, alur cerita memperlihatkan konflik yang memicu keputusan tragis Maipa dan I Mangalaksa untuk melarikan diri bersama, yang disebut silariang atau minggat.

Visual dan Audio yang Membawa Emosi

Penggunaan visual dan audio dalam pertunjukan ini sangat menonjol. Pada bagian adegan kesedihan, panggung dihiasi dengan lampu berwarna gelap dan sendu, menciptakan atmosfer yang memperkuat rasa tragi dalam kisah cinta dua tokoh utama. Saat Maipa Deapati mandi di telaga, Wiwik menggelapkan panggung namun memasukkan titik cahaya kecil dari sudut penonton, seperti lilin. Suara gemericik air yang ditonjolkan di bawah kegelapan ini memancing imajinasi audiens, menjadikan pertunjukan lebih imersif.

Selain itu, efek suara seperti petir dan hujan ditambahkan untuk mengiringi adegan dramatis, memperkaya pengalaman indra penonton. Tokoh-tokoh lain dianimasikan dengan pendekatan eksperimental, dengan Maipa Deapati sebagai pusat perhatian utama. Seluruh elemen ini saling terhubung, membentuk narasi yang mengalir secara alami, sekaligus menggambarkan semangat kehidupan sastra lisan Bugis yang masih relevan hingga hari ini.

Kisah Cinta dalam Karya Seni

Kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati, yang merupakan versi lokal dari Romeo and Juliet, dipertunjukkan dengan semangat kreativitas yang tinggi. “Topics Covered dalam karya ini memperlihatkan bagaimana cinta dapat mengatasi batas-batas budaya, kelas, dan waktu,” tambah Wiwik. Ia menjelaskan bahwa adaptasi ini tidak sekadar menggambarkan kisah romantis, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai tradisional seperti kesopanan, kejujuran, dan keberanian.

Penggemar seni dan budaya Bugis mengapresiasi upaya Wiwik dalam mempertahankan inti cerita sekaligus menghadirkan inovasi. “Pertunjukan ini menunjukkan betapa kaya dan dinamisnya budaya kita,” kata salah satu penonton. Dengan menggabungkan elemen musik, tari, dan cerita, Wiwik menciptakan pengalaman yang menembus generasi, mengingatkan kita akan makna cinta dalam berbagai konteks.

Berlangsungnya pentas ini juga menunjukkan pentingnya peran seni dalam memperkenalkan kisah-kisah tradisional ke kalangan yang lebih luas. “Topics Covered ini menggambarkan bagaimana budaya lokal dapat diterjemahkan ke dalam bentuk seni yang menarik dan kontemporer,” ujarnya. Dengan konsep ini, Wiwik berharap mampu membangkitkan rasa bangga pada budaya Bugis sekaligus memperkaya wawasan tentang narasi narasi kehidupan yang mungkin tidak terdengar dalam waktu modern.

Gabung diskusi