Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Seleb

Review Buku: Abu-abunya Algoritma Korupsi Indonesia

Robert Hernandez - kabarsaji.com 3 mins read 34 views

Kasus-kasus korupsi yang bermunculan belakangan ini seolah tidak pernah habis mengisi ruang publik. Penemuan barang-barang mewah bernilai tinggi yang diduga

Review Buku: Abu-abunya Algoritma Korupsi Indonesia

Abu-abunya Algoritma Korupsi Indonesia: Tinjauan Buku

Kabarsaji.com – Kasus-kasus korupsi yang bermunculan belakangan ini seolah tidak pernah habis mengisi ruang publik. Penemuan barang-barang mewah bernilai tinggi yang diduga milik para pejabat negara semakin memperdalam kekecewaan masyarakat terhadap upaya pemberantasan korupsi. Aparat penegak hukum pun terlihat saling membatasi satu sama lain dalam menangani perkara-perkara besar. Pertanyaannya, di mana letak kesalahan kita sehingga korupsi menjadi beban berat bangsa ini?

Menuduh sejarah dan praktik buruk sejak zaman kerajaan hingga masa Hindia Belanda bukanlah solusi. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa menepuk air di dulang akan memercikkan air ke wajah sendiri, menyalahkan masa lalu tanpa menyadari bahwa kita masih merawat perilaku serupa di masa kini. Alfred Boediman memulai analisisnya dalam The Grey Book: The Economics of Turning Crime into Culture dari fenomena-fenomena kecil di sekitar kita sebelum mengangkatnya ke ranah teoretis.

Korupsi Mikro sebagai Penggerak Sistemik

Menurut Alfred, korupsi mikro merupakan motor tersembunyi yang mendorong korupsi sistemik. Pelanggaran-pelanggaran kecil yang tampak sepele—seperti menyerobot antrean, membocorkan informasi penawaran kepada pihak tertentu, atau memberikan imbalan tambahan untuk persetujuan kontrak—seolah tidak terhubung dengan ekosistem keuangan yang lebih besar. Namun kenyataannya, keduanya saling berkaitan erat.

Tindakan individu dapat berubah menjadi korupsi yang melembaga ketika praktik skala kecil tersebut berulang dan dianggap wajar. Manusia cenderung merasionalisasi perilaku mereka. Alfred mengilustrasikan hal ini dengan analogi rokok: sebatang rokok tidak serta-merta menjadikan seseorang perokok, namun pengulangan tanpa sadar mengubahnya menjadi kecanduan. Praktik yang awalnya dianggap “sekali ini saja” bertransformasi menjadi kebiasaan harian. Semakin sering terjadi, semakin luas penyebarannya hingga menyatu dalam struktur institusi.

“Korupsi mikro” adalah penggerak tersembunyi di balik korupsi sistemik.

Dari Tindakan Kecil Menjadi Budaya

Pikirkan sebuah tindakan korupsi berskala kecil, misalnya pemberian suap untuk mempercepat layanan. Publik perlahan menerimanya karena sistem yang ada dinilai lambat dan birokratis. Ketika orang lain juga melakukannya, hal itu menjadi prosedur standar. Bukan lagi satu individu, melainkan sebuah budaya yang terbentuk.

Sistem yang awalnya dirancang untuk keadilan dan efisiensi kini dipenuhi ketidakjujuran dan inefisiensi. Setiap tindakan korupsi kecil saling bertumpuk hingga sistem tersebut kehilangan wujud selain korupsi itu sendiri.

Dua Periode Penting dalam Sejarah Korupsi Indonesia

Penulis memilih dua periode kritis sebagai titik tolak pembahasan: Era Kolonialisme dan Era Orde Baru. Meskipun terpisah jauh secara temporal, kedua periode ini memiliki kedekatan konseptual.

Masa Kolonialisme memperkenalkan konsep Rust en Orde—keamanan dan ketertiban—sebagai kebijakan untuk meredam gejolak dan pemikiran radikal. Sementara itu, Orde Baru menggunakan jargon stabilitas dan pembangunan sebagai alasan untuk menekan suara-suara kritis. Hasil dari kedua periode tersebut? Korupsi berkembang menjadi warna abu-abu, tidak lagi hitam-putih.

Model Nash Equilibrium dalam Korupsi

Buku ini juga menggunakan landasan teori yang kuat, termasuk model Nash Equilibrium yang dikembangkan oleh John Nash. Konsep keseimbangan ini memperkuat gagasan bahwa dalam sistem yang korup, tidak ada pihak yang memiliki insentif untuk berbuat curang karena kecurangan semacam itu akan menghancurkan keseluruhan jaringan.

Sebagai ilustrasi, jika seorang pejabat atau kontraktor yang korup memutuskan untuk mengkhianati pihak lain—baik dengan menolak membayar uang suap maupun membongkar sistem—mereka menghadapi risiko kehilangan segalanya.

Gabung diskusi