Topics Covered: Butet Kartaredjasa Beri Paus Leo XIV Lukisan Jalan Salib
Butet Kartaredjasa Berikan Lukisan Jalan Salib ke Paus Leo XIV Topics Covered - Seniman budaya Butet Kartaredjasa kembali menorehkan sejarah dengan
Butet Kartaredjasa Berikan Lukisan Jalan Salib ke Paus Leo XIV
Topics Covered – Seniman budaya Butet Kartaredjasa kembali menorehkan sejarah dengan mempersembahkan karya seni berupa lukisan Jalan Salib kepada Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan, Roma, Italia, pada Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang ia impikan selama bertahun-tahun, yang akhirnya terwujud setelah ia pulih dari kondisi saraf kejepit yang menyebabkan kelumpuhan sejak 2021. Dalam pertemuan tersebut, Butet tidak hanya menyerahkan karya seni, tetapi juga memperkenalkan narasi budaya Jawa melalui interpretasinya tentang Via Dolorosa, menunjukkan keberagaman perspektif dalam penceritaan keagamaan.
Perspektif Budaya Jawa dalam Lukisan Jalan Salib
Butet dan istri Rulyani Isfihana membawa sejumlah karya seni yang menggambarkan perjalanan spiritual narasi Punakawan dari perspektif Jawa. Lukisan-lukisan tersebut mencakup empat belas karya yang menampilkan wajah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, tokoh-tokoh legendaris dari wayang kulit. Dalam rangkaian karya ini, Butet mencoba meninterpretasikan Jalan Salib versi Jawa, yang memadukan simbol-simbol budaya lokal dengan ajaran Katolik. Proses kreatif dilakukan pada 2024, dengan menggabungkan filosofi Jawa seperti “Ojo dumeh” (jangan mentang-mentang) ke dalam narasi Kristus yang mengalami penderitaan.
“Lukisan ini menggambarkan perjuangan kemanusiaan,” kata Butet dalam wawancara telepon, Kamis, 18 Juni 2026.
Dalam konteks pewayangan, Punakawan sering dianggap sebagai representasi dari kebijaksanaan dan kelembutan, yang menunjukkan bahwa penderitaan tidak selalu berarti kehancuran, tetapi bisa menjadi pelajaran kehidupan. Butet menjelaskan, karya seninya diharapkan menjadi jembatan antara budaya Jawa dan dunia Katolik, menjelaskan bagaimana tradisi lokal bisa menginspirasi pengalaman rohani yang universal. Ia menekankan bahwa Paus menikmati pemberian lukisan sebagai penghormatan pada kebudayaan Indonesia.
Kegiatan di Vatikan: Upaya Menyampaikan Keberagaman Lintas Iman
Kegiatan Butet di Vatikan tidak hanya berupa pemberian lukisan, tetapi juga mencakup interaksi dengan Kedutaan Besar Indonesia. Ia menyerahkan 14 karya seni kepada Duta Besar Michael Trias Kuncahyono, yang turut membantu menyukseskan pertemuan dengan Paus. Perjalanan ini disebut sebagai “Butet Sowan Paus”, yang dilakukan secara pribadi dengan dana sendiri selama delapan hari. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Butet juga memperkenalkan diri sebagai seniman budaya yang ingin menyampaikan pesan keberagaman lintas iman kepada dunia.
“Perjuangan yang sepadan. Saya dan istri bahagia dan bangga karena diberkati Paus,” ujar Butet. Ia mengibaratkan pertemuan ini sebagai ibadah haji dalam tradisi Islam, yang menggambarkan upaya menyebarluaskan budaya Jawa ke panggung internasional. Dengan hadirnya lukisan-lukisan ini di Basilika Santo Petrus, Butet berharap mendorong dialog antar budaya dan agama.
Dalam pertemuan tersebut, Butet dan Rulyani mengenakan pakaian adat Jawa, mencerminkan kebanggaan pada identitas budaya mereka. Keduanya sempat berbincang singkat serta mencium tangan sang Kepausan, sebagai simbol penghormatan dan keakraban. Lukisan seri kesembilan yang diserahkan Butet menjadi perwakilan dari kemujuran, yang ia anggap sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya setelah pulih dari penyakit saraf kejepit.
Topics Covered – Karya-karya Butet tidak hanya diapresiasi oleh Paus, tetapi juga menjadi buah bibir di kalangan seniman dan penggemar seni Indonesia. Karya tersebut tergolong dalam kategori seni spiritual yang menggabungkan narasi lokal dengan simbol-simbol universal, seperti perjalanan Yesus Kristus dalam Via Dolorosa. Dengan mengadaptasi cerita Punakawan, Butet menciptakan interpretasi unik yang menawarkan pandangan alternatif mengenai penderitaan dan kesabaran dalam konteks agama.
