Live voltage Agustus 3, 2026
Power Radar
Metro

Latest Program: Jampidsus Klaim Hormati Penyidikan Polri atas Dugaan Korupsi

Mark Martin - kabarsaji.com 3 mins read 10 views

Jampidsus Klaim Hormati Penyidikan Polri atas Dugaan Korupsi Latest Program kembali menjadi sorotan setelah Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus

Latest Program: Jampidsus Klaim Hormati Penyidikan Polri atas Dugaan Korupsi

Jampidsus Klaim Hormati Penyidikan Polri atas Dugaan Korupsi

Latest Program kembali menjadi sorotan setelah Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, menegaskan dukungan terhadap penyidikan yang dilakukan oleh Polri dalam kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Ia menegaskan bahwa lembaga kejaksaan tetap menghormati dan menghargai proses hukum yang dijalankan oleh lembaga penyidik lain, sekaligus memberikan apresiasi terhadap upaya penegakan hukum yang sedang berlangsung.

Pernyataan Jampidsus tentang Penyidikan

Febrie Adriansyah, dalam sebuah pernyataan resmi, menyatakan bahwa seluruh proses penyidikan yang dilakukan Polri layak mendapatkan penghargaan. Ia menegaskan, “Kami menghargai langkah penyidikan Polri karena ini merupakan bagian dari Latest Program pengawasan terhadap korupsi yang terus berjalan di berbagai sektor.” Febrie menambahkan bahwa penyidikan tersebut memberikan penjelasan yang jelas dan transparan kepada masyarakat, serta membantu menemukan fakta-fakta penting yang bisa dijadikan dasar hukum.

“Tentunya semua proses penegakan hukum kami akan menghargai dan menghormati,” ujar Febrie. Dengan adanya kerja sama antar lembaga seperti Jampidsus dan Polri, proses penyidikan dapat berjalan lebih efektif, terutama dalam kasus korupsi yang tergolong kompleks.”

Sebagai bagian dari Latest Program pengawasan hukum, penyidikan Polri telah menyasar tiga kasus utama, yaitu PT Asabri, korupsi pasokan batu bara PT PLN, serta PT Krakatau Steel. Febrie menegaskan bahwa lembaga kejaksaan siap mendukung proses penyidikan ini hingga mencapai kesimpulan yang akhirnya bisa disampaikan kepada publik. Ia juga menyebut bahwa langkah tersebut berdampak langsung pada kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum Indonesia.

Detil Operasi Penggeledahan

Operasi penyidikan di beberapa lokasi dimulai pada Rabu, 8 Juli 2026, dengan total 13 tempat yang disita. Di antara lokasi yang dikunjungi, penyidik menemukan bukti-bukti penting di sebuah ruko di Jalan Asem II, Cipete, Jakarta Selatan. Sementara itu, sebelumnya pada Rabu hingga Kamis dini hari, 8-9 Juli 2026, tim penyidik telah menggeledah 12 lokasi di Jakarta, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Bogor.

Di Jakarta, penyidik menggeledah kantor PT CBS di Cengkareng Timur, PT CBS di Penjaringan, serta kantor PT KNI di Petojo Selatan. Di sisi lain, di Tangerang Selatan dan Bogor, tim menyasar rumah milik MN dan satu lokasi di Sentul. Febrie menegaskan bahwa Latest Program penyidikan ini bertujuan untuk mengungkap seluruh aspek yang terkait dengan kasus korupsi.

“Terselubung, di balik satu lemari ada satu brankas dan sudah dibuka. Memang ada dokumen serta penyimpanan uang yang cukup besar dan fantastis dalam mata uang Singapura dan US dolar,” kata Komisaris Besar Budi Hermanto, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya. Dalam operasi di kafe de’Clan Signature, penyidik menyita uang tunai dalam jumlah besar, termasuk SGD 3.130.000 dan US$ 889.965, yang bila dikonversi mencapai hampir Rp 60 miliar.

Kafe de’Clan Signature, yang berlokasi di Cipete, Jakarta Selatan, menjadi salah satu lokasi utama dalam penyidikan. Selain uang tunai, penyidik juga menyita tiga koper kecil berwarna hitam, biru, dan merah, satu koper besar hitam, serta brankas besi. Selama operasi, kafe tersebut dijaga oleh sekitar 15 personel Brimob untuk memastikan proses penyitaan berjalan lancar.

Dalam Latest Program penyidikan ini, kafe de’Clan bukan pertama kalinya menjadi target. Sebelumnya, pada tahun 2025, polisi juga berencana menggeledah tempat tersebut. Pengelola kafe, Ferry Yanto Hongkiriwiang, diduga memiliki keterkaitan dengan Febrie Adriansyah. Ia pernah ditangkap pada Senin, 28 Juli 2025, atas dugaan penculikan, penganiayaan, dan perintangan penyidikan.

Kasus dugaan korupsi yang melibatkan Febrie berawal pada 19 Mei 2024 di sebuah restoran yang kini bernama de’Clan. Saat itu, tempat tersebut masih dikenal sebagai Gontran Cherrier. Sejak Agustus 2024, nama kafe diubah menjadi de’Clan, dan Febrie sebelumnya sering dikaitkan dengan tempat ini sebagai lokasi sarapan rutin. Polisi yang mengikuti operasi menyatakan bahwa penyidik masih mengeksplorasi hubungan Febrie dengan kafe tersebut sebagai bagian dari Latest Program investigasi.

Gabung diskusi