New Policy: Danantara Gandeng Perusahaan AS untuk Hidupkan DME Batu Bara
New Policy: Danantara Gandeng Perusahaan AS untuk Hidupkan DME Batu Bara New Policy - Sebagai bagian dari new policy yang diusung pemerintah, Badan Pengelola
New Policy: Danantara Gandeng Perusahaan AS untuk Hidupkan DME Batu Bara
New Policy – Sebagai bagian dari new policy yang diusung pemerintah, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia meluncurkan kolaborasi strategis dengan perusahaan energi asal Amerika Serikat, Latitude Energy Holdings Inc., untuk memulai kembali pengembangan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Langkah ini menjadi salah satu inisiatif penting dalam new policy yang bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor liquefied petroleum gas (LPG). Dengan teknologi Transport Integrated Gasification (TRIG), proyek ini diharapkan bisa menghasilkan produk energi alternatif yang ramah lingkungan, sekaligus mendukung transisi energi Indonesia ke arah yang lebih berkelanjutan.
Kerja sama antara Danantara dan Latitude Energy diumumkan melalui nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua pihak. Teknologi TRIG, yang dikenal efisien dan mampu mengubah batu bara menjadi gas sintetis, akan menjadi fondasi utama dalam new policy ini. Dengan kemampuan ini, DME bisa diproduksi dalam skala besar dan digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk berbagai sektor, termasuk transportasi dan industri. Proyek ini juga diharapkan menjadi pilar dalam new policy pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya batu bara yang masih berlimpah di Indonesia.
Mengapa DME Menjadi Pilihan?
Batubara, sebagai salah satu sumber energi terbesar di Indonesia, kini kembali menjadi fokus dalam new policy yang mengintegrasikan hilirisasi. DME, yang merupakan gas sintetis dengan sifat ramah lingkungan, dianggap sebagai alternatif potensial untuk menggantikan LPG yang selama ini menjadi bahan bakar utama. Selain itu, penggunaan DME juga diharapkan bisa mengurangi emisi karbon sebab teknologi TRIG menghasilkan emisi yang lebih rendah dibanding metode konversi batu bara tradisional.
Dalam pernyataannya, CEO PT Danantara Development Management Fund, Sigit P. Santosa, menyampaikan bahwa new policy ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi melalui penggunaan batu bara berkalori rendah. “Indonesia memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan sumber daya batu baranya melalui teknologi konversi canggih yang bisa mendukung kebutuhan energi dalam negeri,” kata Sigit dalam keterangan tertulis, dikutip Ahad, 12 Juli 2026. Ia menekankan bahwa new policy ini tidak hanya menjadi kebijakan strategis, tapi juga langkah konkrit untuk meningkatkan daya saing industri energi nasional.
Pilihan Editor: Kekebalan Hukum bagi Pembeli Surat Utang Danantara
Latitude Energy berperan sebagai mitra utama dalam new policy ini, memberikan dukungan teknis, manajemen, serta investasi besar untuk membangun infrastruktur gasifikasi. Dukungan ini menjadi kunci untuk mengembangkan proyek DME secara berkelanjutan, terutama setelah investor sebelumnya, Air Products and Chemicals Inc., mengundurkan diri pada 2023. Mereka menilai teknologi dari perusahaan asal Amerika Serikat memiliki potensi mendukung ketahanan energi dan industri Indonesia sekaligus memperkuat hubungan investasi bilateral.
Tantangan dan Harapan di Belakang New Policy
Proyek DME ini pertama kali digagas pada 2018 melalui kerja sama antara PT Bukit Asam Tbk, PT Pertamina (Persero), dan Air Products and Chemicals Inc. Proyek bernilai sekitar US$ 15 miliar itu ditargetkan menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun, dengan harapan mengurangi impor LPG yang terus meningkat. Namun, proyek tersebut sempat terhenti setelah Air Products mengundurkan diri, dan kini new policy menjadi jalan keluar untuk menghidupkan kembali kemungkinan ini.
Analisis oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebutkan bahwa biaya produksi DME berbahan baku batu bara masih terlalu tinggi. Dalam new policy yang baru ini, pemerintah diharapkan bisa menekan biaya produksi melalui penggunaan teknologi TRIG yang lebih efisien. Dengan demikian, new policy ini tidak hanya mengandalkan investasi, tetapi juga inovasi teknologi untuk menjamin keberlanjutan proyek tersebut.
Adapun, penelitian dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) pada 2020 memproyeksikan bahwa proyek gasifikasi batu bara menjadi DME berpotensi merugi sekitar US$ 377 juta dari sisi biaya operasional dan pembiayaan. Namun, dengan new policy yang lebih terstruktur dan dukungan dari perusahaan asing seperti Latitude Energy, kini ada harapan bahwa proyek ini bisa mencapai keuntungan yang signifikan. Pemerintah menilai bahwa new policy ini bisa menjadi jalan untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi, sekaligus menstabilkan harga energi dalam negeri.
Kerja sama ini menjadi salah satu langkah penting dalam new policy yang diharapkan bisa menggerakkan sektor hilirisasi batu bara. Pemerintah juga menekankan bahwa new policy ini bertujuan menciptakan ekosistem energi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan teknologi TRIG, batu bara yang selama ini dianggap sebagai bahan bakar fosil tradisional bisa berubah menjadi produk energi alternatif yang memiliki nilai tambah, sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi Indonesia di bidang energi.
