Live voltage Agustus 3, 2026
Power Radar
Bisnis

INA Pegang Saham BRI dan Mandiri Meski Nilainya Sedang Turun

Mary Martinez - kabarsaji.com 4 mins read 14 views

INA Masih Pegang Saham BRI dan Mandiri Meski Harga Saham Turun INA Pegang Saham BRI dan Mandiri - Badan Investasi Indonesia (INA) tetap memegang saham pada

INA Pegang Saham BRI dan Mandiri Meski Nilainya Sedang Turun

INA Masih Pegang Saham BRI dan Mandiri Meski Harga Saham Turun

INA Pegang Saham BRI dan Mandiri – Badan Investasi Indonesia (INA) tetap memegang saham pada dua bank pelat merah, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, meskipun nilai tukar saham kedua perusahaan tersebut mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Eddy Porwanto, Wakil Direktur Utama INA, menegaskan bahwa keuntungan dari dividen yang diberikan oleh kedua institusi perbankan tetap menjadi daya tarik bagi investor. Meski kondisi pasar tidak menjamin peningkatan nilai saham, INA tetap yakin bahwa investasi ini memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.

INA mempertahankan kepemilikan saham pada BRI dan Mandiri sebagai bagian dari kebijakan investasi nasional yang bertujuan memperkuat stabilitas sektor keuangan. Dalam laporan tahunan terbaru, INA mencatat bahwa penurunan harga saham di tahun 2025 berdampak pada total aset keuangan yang dimiliki, namun pihaknya masih percaya pada kemampuan kedua bank tersebut dalam memperbaiki kinerja keuangan.

Nilai Investasi Turun, Tapi Kinerja Perbankan Masih Stabil

Dalam laporan keuangan 2025, nilai saham BRI dan Mandiri menunjukkan fluktuasi yang beragam. BRI, yang dikenal sebagai salah satu bank pelat merah terbesar, mengalami penurunan harga saham sebesar 30,54 persen sejak 1 Juli 2021. Saat ini, harga saham BRI tercatat Rp 2.670 per lembar, dibandingkan dengan Rp 3.844 per lembar pada akhir tahun 2021. Namun, meski terjadi penurunan tahunan sebesar 27,05 persen, kinerja BRI masih dianggap stabil karena pertumbuhan laba yang konsisten.

Sementara itu, saham Mandiri mengalami kenaikan sebesar 29,15 persen dalam periode yang sama. Harga saham Mandiri saat ini mencapai Rp 3.810 per lembar, dibandingkan Rp 2.950 per lembar pada tahun 2021. Meski nilai tukar saham Mandiri turun sebesar 25,29 persen sepanjang tahun 2025, pihak INA menilai bahwa kemampuan manajemen dan strategi bisnis Mandiri tetap menjadi faktor pendorong utama dalam jangka panjang.

“Fluktuasi harga saham sebelumnya hanya bersifat sementara, dan kami yakin bahwa kedua bank ini akan bangkit kembali melalui inovasi dan pengelolaan modal yang lebih baik,” kata Porwanto dalam wawancara media di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Penyertaan Modal Negara Sejak 2021

INA memperoleh modal negara melalui penyertaan saham BRI dan Mandiri senilai Rp 45 triliun pada 2021. Saat ini, kedua bank tersebut menjadi bagian dari portofolio keuangan INA dengan kepemilikan sebesar 3,63 persen di BRI dan 8 persen di Mandiri. Penyertaan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendukung sektor perbankan yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Pengelolaan saham BRI dan Mandiri oleh INA juga mencerminkan strategi jangka panjang. Meski nilai saham mengalami penurunan, kepemilikan INA tetap berada dalam batas yang strategis. Dengan persentase kepemilikan tersebut, INA dapat berperan aktif dalam pengambilan keputusan strategis, terutama dalam menghadapi tantangan pasar yang dinamis. Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan saham ini menjadi contoh bagaimana investor nasional tetap optimis meski kondisi ekonomi tidak menjanjikan.

“Pemegang saham seperti INA memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan keuangan bank pelat merah, terlepas dari perubahan pasar,” tambah Porwanto dalam wawancara yang sama.

Analisis Pasar dan Perspektif Investasi

Penurunan nilai saham BRI dan Mandiri tidak hanya disebabkan oleh faktor internal, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Eddy Porwanto menyoroti bahwa kinerja perusahaan di pasar saham sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro, seperti inflasi, suku bunga, dan kebijakan moneter. Meski demikian, INA tetap melihat potensi pertumbuhan yang lebih baik di masa depan, terutama dengan adanya strategi pengembangan digital dan ekspansi layanan keuangan.

BRI dan Mandiri juga menjadi bagian dari rasio kepemilikan modal negara yang menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kinerja perbankan. Dalam konteks ini, INA Pegang Saham BRI dan Mandiri bukan hanya sekadar investasi, tetapi juga wujud komitmen untuk memastikan keberlanjutan sektor keuangan. Porwanto menegaskan bahwa selain memperoleh keuntungan finansial, INA juga menjaga keseimbangan antara risiko dan return, terutama dalam menghadapi kondisi pasar yang tidak pasti.

Kinerja Perbankan dan Ekspektasi Masa Depan

Dalam laporan tahunan 2025, BRI dan Mandiri menunjukkan kinerja yang berbeda. BRI, sebagai bank yang lebih fokus pada kebutuhan masyarakat menengah dan rendah, berhasil menahan tingkat pertumbuhan laba yang cukup baik. Sementara Mandiri, yang memiliki portofolio perusahaan lebih luas, berhasil mengembangkan layanan keuangan digital yang menarik perhatian pelanggan muda. Meski terjadi penurunan nilai saham, kedua bank ini tetap menjadi pilihan yang strategis bagi INA.

Pemegang saham seperti INA juga memperhatikan perkembangan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Penurunan harga saham BRI dan Mandiri mencerminkan tantangan yang dihadapi perbankan dalam konteks inflasi yang tinggi dan persaingan dengan bank swasta. Namun, Porwanto berpendapat bahwa kinerja BRI dan Mandiri tetap berada di atas rata-rata industri, sehingga membuatnya tetap menjadi investasi yang menarik. Dengan menyatakan bahwa INA Pegang Saham BRI dan Mandiri, pihaknya juga ingin menunjukkan komitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami terus memantau kinerja BRI dan Mandiri, serta mengoptimalkan posisi saham kami untuk memperoleh return yang lebih baik,” ujar Porwanto.

Gabung diskusi