Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Bisnis

Cadangan Devisa Indonesia Juni 2026 Naik Tipis

Mark Hernandez - kabarsaji.com 2 mins read 14 views

Bank Indonesia resmi mengumumkan bahwa nilai cadangan devisa nasional mengalami kenaikan marginal pada akhir bulan Juni 2026. Berdasarkan data yang dirilis

Cadangan Devisa Indonesia Juni 2026 Naik Tipis

Posisi Cadangan Devisa Indonesia pada Akhir Juni 2026 Menguat Sedikit

Kabarsaji.com – Bank Indonesia resmi mengumumkan bahwa nilai cadangan devisa nasional mengalami kenaikan marginal pada akhir bulan Juni 2026. Berdasarkan data yang dirilis, posisi cadangan devisa mencapai US$ 145,6 miliar, melampaui angka di Mei 2026 yang tercatat sebesar US$ 144,9 miliar. Kenaikan ini mencerminkan stabilitas ekonomi makro yang terjaga di tengah dinamika global yang masih belum pasti.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan penjelasan dalam konferensi pers pada Rabu, 22 Juli 2026, mengenai perkembangan terkini. Ia menekankan bahwa level cadangan devisa saat ini sudah berada di atas ambang batas kecukupan internasional yang umumnya ditetapkan sekitar tiga bulan kebutuhan impor. Selain itu, bank sentral juga menetapkan target kinerja transaksi berjalan tahun ini tetap sehat dengan kisaran defisit antara 0,5 hingga 1,3 persen terhadap produk domestik bruto.

(Cadangan devisa) Setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Menurut Perry, kecukupan cadangan devisa menjadi indikator penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional. Dengan posisi yang memadai, Indonesia memiliki ruang yang cukup untuk menghadapi berbagai guncangan eksternal yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Aliran Investasi Asing dan Stabilitas Rupiah

Dalam pengumuman terpisah, BI mengungkap bahwa arus masuk investasi asing pada kuartal pertama 2026 mencapai US$ 8,5 miliar. Perry menambahkan bahwa sebagian besar dana tersebut bersumber dari Surat Berharga Negara serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia yang masa berlakunya diperpanjang hingga 20 Juli 2026.

Terutama dari SBN yang mencatat net inflow sebesar US$ 0,1 miliar.

Untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, Gubernur BI menegaskan bahwa bank sentral akan terus mengoptimalkan berbagai intervensi baik di pasar luar negeri maupun domestik. Langkah ini mencakup transaksi spot serta Domestic Non-Deliverable Forward di dalam negeri.

Perkembangan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat per 21 Juli 2026 menunjukkan kondisi yang relatif stabil di level Rp 17.885. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang berada di Rp 17.880. Bank sentral juga menyatakan komitmen untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dalam memperkuat stabilitas mata uang nasional menghadapi dinamika global.

Instrumen Moneter Baru dan Peningkatan Daya Tarik Investor

Keputusan menaikkan suku bunga kepemilikan SRBI bertujuan untuk menarik lebih banyak aliran masuk investasi portofolio asing. Data menunjukkan bahwa kepemilikan nonresident di SRBI meningkat signifikan dari Rp 238,1 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp 288,7 triliun pada 20 Juli 2026. Total tersebut kini menyumbang 27,1 persen dari keseluruhan posisi SRBI.

Untuk meningkatkan daya tarik bagi investor asing, Perry menjelaskan bahwa BI mengoptimalkan seluruh instrumen moneter sekaligus memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai sebesar 10 persen. Sebelumnya, beban ini sepenuhnya ditanggung oleh para investor.

Bank Indonesia juga memperluas cakupan instrumen operasi moneter valuta asing dengan memperkenalkan spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi terhadap rupiah. Kebijakan ini sejalan dengan tren meluasnya penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction untuk mendukung transaksi perdagangan dan investasi.

Pilihan Editor: Mengapa Pelbagai Inovasi Tak Membuat Pos Indonesia Bangkit

Gabung diskusi