Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Seleb

Siswa Belajar Batik Ecoprint di Hari Anak Nasional 2026

Mary Martinez - kabarsaji.com 3 mins read 24 views

Di tengah suasana pagi yang cerah, lebih dari lima ratus siswa dari berbagai sekolah di wilayah Kabupaten Sleman Yogyakarta berkumpul menghadap kanvas mereka

Siswa Belajar Batik Ecoprint di Hari Anak Nasional 2026

Belajar Ecoprint di Hari Anak Nasional 2026: Mengenal Batik Ramah Lingkungan di Candi Prambanan

Kabarsaji.com – Di tengah suasana pagi yang cerah, lebih dari lima ratus siswa dari berbagai sekolah di wilayah Kabupaten Sleman Yogyakarta berkumpul menghadap kanvas mereka. Latar belakang Candi Prambanan menjadi saksi bisu kegiatan membatik massal yang diselenggarakan pada Rabu, 22 Juli 2026. Para pelajar tampak fokus memukul-mukul alat kayu berbentuk seperti palu ke atas kain yang telah diberi motif tumbuhan. Proses ini membuat warna dari daun dan bunga perlahan menyerap ke dalam serat kain, menciptakan pola unik yang semakin jelas terlihat.

Teknik Ecoprint: Seni Membatik Berbasis Alam

Ecoprint merupakan metode pembuatan batik yang memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai pewarna dan pembentuk motif. Berbeda dengan teknik konvensional yang menggunakan malam atau lilin serta canting, ecoprint mengandalkan penyerapan langsung pigmen tumbuhan ke dalam kain. Serat alami seperti sutra, katun, linen, maupun rayon menjadi media ideal untuk teknik ini. Tumbuhan yang dipilih umumnya mengandung tanin kuat, misalnya daun jati menghasilkan nuansa merah keunguan, sementara daun lanang dan ketapang memberikan warna hijau hingga hitam. Daun jarak dan pakis membantu menciptakan struktur bentuk yang tegas, sedangkan bunga kenikir atau mawar menambah aksen kuning dan merah muda pada hasil akhir.

Teknik pounding atau steam ini juga dikenal sebagai cara mencetak jejak dedaunan di atas kain. Prosesnya cukup sederhana namun menghasilkan karya seni yang memukau. Siswa-siswa diajak memahami bahwa membatik tidak hanya terbatas pada teknik tulis dan cap saja.

Kegiatan di Lapangan Garuda Mandala

Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Garuda Mandala kawasan Candi Prambanan ini melibatkan ratusan pelajar. Gistang Panutur, pengelola Candi Prambanan, menjelaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini adalah memperkenalkan potensi budaya batik ecoprint yang terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar. Desa Wisata Bugisan di Prambanan menjadi salah satu lokasi yang berkembang pesat dalam kegiatan ini.

“Pelatihan membatik dengan teknik ecoprint ini agar para pelajar juga mengetahui, bahwa di sekitar Candi Prambanan, ada potensi budaya batik ecoprint yang terus hidup dilestarikan warga sekitar,” ujar Gistang saat ditemui pada Rabu, 22 Juli 2026.

Menurut Gistang, Candi Prambanan bukan hanya bangunan bersejarah yang perlu dijaga, tetapi juga budaya sekitarnya yang harus dikenal dan dipahami oleh generasi muda. Melalui kegiatan membatik bersama, siswa-siswa diajak mengenal teknik yang memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan untuk pembuatan motif dan pewarnaan kain.

Partisipasi dan Aktivitas Tambahan

Sebanyak lima ratus siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari sekolah-sekolah di perbatasan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten Jawa Tengah mengikuti kegiatan ini. Sebanyak lima puluh empat guru pendamping dari dua puluh tujuh SMP dan MTs di wilayah Prambanan, Kalasan, dan Berbah juga turut serta mendampingi para siswa.

Dea, salah satu peserta yang hadir, menyampaikan perasaannya tentang kegiatan tersebut. Ia merasa awalnya bingung, namun lama-kelamaan menjadi asyik membuat batik dengan teknik ecoprint.

“Seru, pertama bingung, tapi lama-lama asyik membuat batik ini,” tutur Dea.

Selain membatik, para siswa juga diajak memahami Candi Prambanan melalui cara yang berbeda. Mereka menyusun peta candi, kemudian menyusuri dan mempelajari relief-relief yang ada di dalamnya. Gistang berharap adanya perubahan perspektif siswa ketika mengunjungi Candi Prambanan. Candi tersebut bukan hanya bangunan batu yang dipandangi, tetapi tempat belajar yang kaya akan pengetahuan.

Sebagian besar wisatawan selama ini hanya memandang Candi Prambanan sebagai tempat plesir tanpa mempelajari makna di balik relief candi. Padahal, sekitar dua puluh hingga dua puluh lima persen dari total pengunjung berasal dari kalangan pelajar. Melalui kegiatan ini, siswa-siswa diharapkan dapat lebih menghargai warisan budaya dan alam di sekitar Candi Prambanan.

Dari teknik ecoprint ini, siswa belajar ikut menjaga kelestarian alam terutama di sekitar Candi Prambanan. Kegiatan yang menggabungkan seni, budaya, dan lingkungan ini menjadi pengalaman berharga bagi generasi muda.

Pilihan Editor: Heritage Lab, Kelas Seni Saat Liburan di Candi Prambanan

Gabung diskusi