Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Tekno

Fenomena Likuefaksi Ternyata Terjadi Pasca-Gempa Sigi

Mary Martinez - kabarsaji.com 3 mins read 14 views

Bencana yang melanda Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 membawa dampak luar biasa bagi masyarakat setempat. Gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang

Fenomena Likuefaksi Ternyata Terjadi Pasca-Gempa Sigi

Fenomena Likuefaksi Ternyata Terjadi Pasca Gempa Sigi: Analisis Mendalam

Kabarsaji.com – Bencana yang melanda Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 membawa dampak luar biasa bagi masyarakat setempat. Gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, serta Kota Palu tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu fenomena geologis yang menarik perhatian para ahli. Tim Tanggap Darurat Badan Geologi berhasil mengidentifikasi bahwa peristiwa gempa darat pagi hari tersebut juga menyebabkan hilangnya kekuatan tanah di beberapa titik, sebuah kondisi yang dikenal sebagai likuefaksi.

Tim investigasi yang bertugas terdiri dari staf Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama tim dari Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan. Dengan membagi diri menjadi dua kelompok, mereka dapat melakukan pemantauan lebih efektif di berbagai lokasi terdampak. Pendekatan ini memungkinkan pengumpulan data yang komprehensif mengenai dampak gempa dan fenomena yang menyertainya.

Penilaian Kerusakan di Kota Palu

Di Kota Palu, para ahli memeriksa kerusakan bangunan yang disebabkan oleh gempa dengan pusat di Sigi. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat bahwa lima fasilitas kesehatan, delapan puluh empat tempat pendidikan, tiga rumah ibadah, satu jembatan, dua bangunan perdagangan, lima hotel, serta tujuh perkantoran terdampak. Kerusakan yang terjadi umumnya mencakup dinding yang roboh, retakan pada tembok dan lantai, plester dinding yang terkelupas, serta kerusakan plafon.

Menurut Supartoyo, anggota tim, guncangan Gempa Sigi tidak menyebabkan sesar permukaan di Palu. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada bahaya ikutan seperti retakan tanah, penurunan tanah, likuefaksi, maupun gerakan tanah atau longsoran di wilayah tersebut. Temuan yang sama juga ditemukan di Kabupaten Parigi Moutong, menunjukkan bahwa dampak fenomena geologis ini bersifat lokal dan terbatas pada area tertentu.

“Fenomena adanya susut laut yang terjadi di Teluk Palu setelah Gempa Sigi juga tidak berkaitan dengan potensi tsunami karena lokasi pusat gempa terletak di darat,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin 20 Juli 2026.

Temuan Likuefaksi di Kabupaten Sigi

Sebaliknya, daerah terdekat dengan pusat gempa, yaitu Kabupaten Sigi, mencatat kondisi berbeda yang signifikan. Wilayah yang paling terdampak adalah Kecamatan Palolo, Nokilalaki, dan Marowala. Guncangan gempa dengan skala VII MMI yang dirasakan di kawasan ini disertai dengan kejadian likuefaksi yang cukup intensif. Fenomena ini terjadi ketika tanah yang jenuh air kehilangan kekuatan dan berperilaku seperti cairan akibat guncangan gempa.

Di Kecamatan Palolo, likuefaksi terjadi di Desa Tongoa, Rejeki, Sintuwu, dan Sarumana. Fenomena ini umumnya berupa semburan pasir atau tipe sand boil yang muncul ke permukaan tanah. Beberapa rumah mengalami penurunan tanah antara satu hingga lima sentimeter, contohnya di bagian dapur. Selain itu, sumur gali dengan muka air tanah kurang dari lima meter dekat rumah warga juga sampai kering pasca gempa, menunjukkan perubahan signifikan pada kondisi air tanah.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Likuefaksi dari Badan Geologi, desa-desa terdampak di Kecamatan Palolo dikategorikan memiliki kerentanan menengah atau ditandai warna kuning. Kondisi likuefaksi serupa juga diamati di Kecamatan Nokilalaki dan Marowala, mengonfirmasi bahwa fenomena ini memang terjadi secara luas di wilayah Sigi.

Badan Geologi memberikan rekomendasi bagi rumah penduduk yang kerusakannya dipengaruhi proses likuefaksi. Bangunan dapat dibangun kembali dengan menggunakan konstruksi semi permanen yang bersifat ringan. “Apabila akan mendirikan bangunan tembok agar benar-benar menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi dan melakukan penguatan pada fondasi agar tidak mengakibatkan kerusakan sewaktu terjadi gempa bumi yang memicu likuefaksi,” jelas mereka. Rekomendasi ini penting untuk memastikan ketahanan bangunan di masa depan.

Pilihan Editor

Sumber Gempa Palu, Mengapa BMKG dan Badan Geologi Berbeda?

Gabung diskusi