Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Dunia

Main Agenda: Pengamat HI UI: 3 Hal Pasca-MoU AS-Iran

Jennifer Taylor - kabarsaji.com 4 mins read 16 views

Analisis Shofwan Al Banna Choiruzzad: Tiga Kemungkinan Setelah MoU AS-Iran Main Agenda – Meski perang antara Iran dan Amerika Serikat berakhir dengan

Main Agenda: Pengamat HI UI: 3 Hal Pasca-MoU AS-Iran

Analisis Shofwan Al Banna Choiruzzad: Tiga Kemungkinan Setelah MoU AS-Iran

Main Agenda – Meski perang antara Iran dan Amerika Serikat berakhir dengan penandatanganan MoU (Mutual Understanding), dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah tetap menawarkan kompleksitas yang tidak bisa diabaikan. Kekhawatiran ini diungkapkan oleh Shofwan Al Banna Choiruzzad, dosen Hubungan Internasional di Universitas Indonesia (UI), dalam video yang diunggah pada Jumat, 19 Juni 2026. Ia menyoroti bahwa Main Agenda dalam konflik ini tidak hanya berhenti di tahap penyelesaian, tetapi melahirkan berbagai skenario yang berpotensi mengubah tata kelola kawasan.

Israel Berpotensi Mengambil Langkah Agresif untuk Menghambat Perdamaian

Menurut Shofwan, salah satu skenario utama pasca-MoU adalah kemungkinan Israel mengambil tindakan keras untuk menggagalkan proses rekonsiliasi yang tengah berlangsung. Kebijakan ini dianggap sebagai strategi defensif, mengingat Iran selama ini dianggap sebagai ancaman utama terhadap keberadaan negara Zionis. Sebagai contoh, ia menyinggung bahwa Israel mungkin meningkatkan operasi militer di wilayah Lebanon Selatan atau menargetkan fasilitas nuklir Iran.

Israel memandang kesepakatan damai ini sebagai indikasi kegagalan strategi, sehingga siap mengambil langkah apa pun untuk mencegahnya, jelas Shofwan, seperti yang dikutip Tempo.

Analisisnya menunjukkan bahwa keberhasilan MoU akan menjadi momentum untuk menguji kekuatan Iran di mata dunia. Namun, Israel tetap tidak akan menyerah. Pemimpin partai oposisi dalam pemerintahan Zionis, seperti Yisrael Beiteinu, dinilai memanfaatkan situasi ini untuk menyerang Netanyahu, yang dianggap sebagai pemimpin yang kalah dan tergantung pada kebijakan AS. Shofwan juga menyebutkan bahwa preseden MoU ini bisa menimbulkan perubahan dalam perang dagang antara AS dan Iran, termasuk potensi penurunan beban diplomatik Amerika.

Trump Mengevaluasi Dampak Perubahan Strategi AS

Salah satu skenario lain yang dianalisis Shofwan adalah evaluasi strategi kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Ia menilai, dengan dukungan penuh kepada Israel, AS mungkin mengalami kerugian besar dalam konteks kebijakan regional. Selain itu, MoU ini juga menjadi Main Agenda untuk meninjau kembali pendekatan militer yang selama ini digunakan.

“Sekarang Trump akan melihat apakah perubahan strategi ini akan menghasilkan keuntungan atau justru memperparah situasi,” kata dia.

Menurut Shofwan, kegagalan AS dalam perang bisa memicu narasi baru yang menyoroti kelemahan pihaknya di kawasan tersebut. Narasi ini, menurutnya, dirancang untuk mendorong AS kembali terlibat dalam konflik militer, terutama jika hasil MoU tidak sesuai dengan harapan. Ia juga menyoroti bahwa keberhasilan MoU akan menjadi bukti kekuatan Iran, sekaligus membuka peluang bagi negara-negara lain untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam menghadapi AS.

Proses Rekonsiliasi di Timur Tengah Terancam oleh Ketegangan Internal

Skenario ketiga yang dianalisis adalah risiko penundaan atau kegagalan perundingan damai antara AS dan Iran. Shofwan menyoroti bahwa keterlibatan aktif AS dalam MoU berdampak besar pada dinamika hubungan antarnegara. Dalam konteks ini, Main Agenda yang diusung MoU bisa jadi terganggu karena ketegangan internal di dalam pemerintahan Iran atau perubahan kebijakan mendadak oleh pihak Amerika.

“Jadikan momentum kesepakatan damai ini bukan untuk melupakan Gaza, tetapi justru sebagai kesadaran bahwa kekuatan militer raksasa bisa dikalahkan melalui keteguhan,” tutur Shofwan.

Editor menyoroti bahwa penundaan perundingan teknis antara AS dan Iran di Swiss menjadi isu penting. Hal ini terjadi karena serangan militer Zionis di Libanon Selatan yang berlangsung sejak Kamis malam hingga Jumat, menyebabkan kematian minimal 16 orang. Shofwan mengingatkan bahwa kegagalan MoU berpotensi memicu kebrutalan lebih lanjut, terutama jika Israel dan Iran saling mengambil langkah konfrontatif.

Mengapa MoU AS-Iran Menjadi Main Agenda di Timur Tengah?

MoU antara AS dan Iran menjadi Main Agenda karena menyangkut rencana masa depan negara-negara kawasan. Kesepakatan ini menandai perubahan paradigma dalam konflik antara dua negara, yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu konflik utama di Timur Tengah. Dalam konteks ini, Shofwan menekankan bahwa MoU bukan hanya tentang henti perang, tetapi juga tentang Main Agenda baru dalam keterlibatan geopolitik Iran di kawasan.

MoU ini menjadi peluang untuk menguji kemampuan Iran dalam membangun kemitraan strategis di luar zona konflik, kata Shofwan.

Pemimpin kubu politik internasional juga menyoroti bahwa keberhasilan MoU akan menjadi bukti keterlibatan Iran dalam perang dagang global. Dengan dukungan AS, Iran bisa meningkatkan peran ekonomi di kawasan, terutama melalui ekspor energi dan kerja sama perdagangan. Namun, kegagalan MoU berdampak pula pada kepercayaan internasional terhadap Iran, mengingat negara itu selama ini dikenal sebagai pelaku konflik.

Ketegangan Global dan Dampak pada Kepemimpinan Trump

Dalam konteks kebijakan luar negeri Trump, MoU AS-Iran dianggap sebagai Main Agenda yang menguji konsistensi kebijakan mantan presiden. Shofwan mengungkapkan bahwa Trump, sebagai mantan presiden yang dikenal konseptual, mungkin memanfaatkan kesepakatan ini untuk membangun narasi baru tentang kebijakan AS di Timur Tengah. Namun, ia juga memperingatkan bahwa keberhasilan MoU berdampak pula pada keterlibatan Israel dalam skenario global.

Keberhasilan MoU bisa menjadi momentum untuk menguji karier Trump, tetapi juga menjadi Main Agenda bagi AS dalam menyeimbangkan kekuatan di kawasan tersebut, kata Shofwan.

Dengan MoU ini, AS mungkin bisa mengurangi tekanan pada Iran secara langsung, namun tetap menjadi pihak yang dominan dalam konflik. Shofwan menilai bahwa kegagalan MoU berdampak pada kredibilitas AS sebagai penengah, sementara keberhasilannya akan memperkuat posisi Iran sebagai negara yang mampu membangun kemitraan global. Ia juga menambahkan bahwa MoU ini menjadi Main Agenda dalam menentukan keberlanjutan perang di Timur Tengah.

Dalam beberapa hari terakhir, situasi di Timur Tengah menjadi semakin dinamis. Kesepakatan AS-Iran menjadi harapan bagi negara-negara yang ingin mengakhiri konflik, tetapi juga menjadi ancaman bagi pihak-pihak yang merasa kehilangan pengaruh. Dengan semakin meningkatnya konflik di Lebanon Selatan, Shofwan menegaskan bahwa Main Agenda pasca-MoU akan menjadi titik kritis dalam menentukan arah politik dan keamanan kawasan. MoU ini tidak hanya tentang perang, tetapi juga tentang Main Agenda yang menyatukan kepentingan global di bawah satu kesepakatan.

Gabung diskusi