Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Tekno

BRIN: Anggrek Merpati Berpotensi Dukung Produk Nutraseutikal

Jennifer Taylor - kabarsaji.com 3 mins read 12 views

BRIN: Anggrek Merpati Berpotensi Dukung Produk Nutraseutikal BRIN - Penelitian yang dilakukan oleh tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti bahwa

BRIN: Anggrek Merpati Berpotensi Dukung Produk Nutraseutikal

BRIN: Anggrek Merpati Berpotensi Dukung Produk Nutraseutikal

BRIN – Penelitian yang dilakukan oleh tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti bahwa anggrek merpati (Dendrobium crumenatum) tumbuh secara meluas di berbagai kawasan konservasi Indonesia. Meski demikian, penggunaan tanaman ini untuk produksi nutraseutikal hingga saat ini belum mencapai tingkat maksimal. Penelitian ini mengungkap kemungkinan besar anggrek dapat menjadi bahan baku alternatif untuk industri kesehatan berbahan alami.

Metabolit dalam anggrek tergantung pada kondisi lingkungan tempat tumbuh, yang memengaruhi aktivitas antioksidan dan antibakteri. Studi yang dipublikasikan di jurnal Applied Biochemistry and Biotechnology ini menganalisis perbedaan komposisi metabolit melalui pendekatan metabolomik menggunakan teknik Ultra High Performance Liquid Chromatography–High Resolution Mass Spectrometry (UHPLC-HRMS).

Analisis dari Dua Kawasan Konservasi

Tim peneliti membandingkan profil metabolit dari daun dan batang Dendrobium crumenatum yang diambil di Kebun Raya Bogor dan Taman Nasional Ujung Kulon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi geografis kawasan konservasi secara signifikan memengaruhi jenis dan konsentrasi metabolit yang terbentuk sebagai respons adaptasi tanaman.

“Lokasi geografis kawasan konservasi berpengaruh nyata terhadap profil metabolit anggrek Dendrobium crumenatum. Faktor lingkungan memicu pembentukan metabolit sekunder yang berbeda,” ujar Salsabila Aqila Putri, peneliti postdoctoral dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, melalui keterangan tertulis, Selasa, 14 Juli 2026.

Dari total 48 senyawa metabolit yang teridentifikasi, sekitar 54 persen merupakan metabolit sekunder seperti fenolik, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Sisanya, 46 persen, berupa metabolit primer yang mencakup asam lemak, asam amino, dan turunannya.

Analisis statistik mengungkap bahwa sampel dari Kebun Raya Bogor mengandung lebih banyak senyawa asam lemak dan alkaloid, sementara sampel Taman Nasional Ujung Kulon memiliki kadar fenolik dan flavonoid yang lebih tinggi. Menurut Salsabila, perbedaan ini dipengaruhi oleh tekanan lingkungan akibat urbanisasi di Bogor serta kandungan nitrogen tinggi dalam tanah, yang meningkatkan senyawa tertentu.

Di Ujung Kulon, curah hujan yang rendah menyebabkan stres air pada tanaman. Hal ini memicu peningkatan produksi metabolit yang membantu melindungi sel terhadap kerusakan oksidatif, seperti fenolik dan flavonoid. “Kondisi tersebut mendorong anggrek merpati menghasilkan senyawa untuk mengatasi tekanan lingkungan,” tambahnya.

Kinerja Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri

Uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak daun dari Taman Nasional Ujung Kulon memiliki efektivitas tertinggi dalam menangkap radikal ABTS, dengan nilai IC 99,23 µg/mL. Sementara ekstrak daun Kebun Raya Bogor menunjukkan performa terbaik terhadap radikal DPPH, mencapai nilai IC 242,5 µg/mL.

Dalam pengujian antibakteri, ekstrak batang dari Kebun Raya Bogor memberikan penghambatan terbesar terhadap Pseudomonas aeruginosa, sebesar 86,44 persen. Ekstrak daun dari Ujung Kulon, di sisi lain, menunjukkan aktivitas antibakteri yang optimal terhadap Staphylococcus aureus. Mekanisme kerja senyawa pada bakteri dijelaskan melalui simulasi komputasi molecular docking.

Simulasi menunjukkan bahwa senyawa fenolik dominan dalam ekstrak anggrek memiliki afinitas kuat terhadap protein PBP2 (Penicillin-Binding Protein 2), yang berperan dalam pembentukan dinding sel bakteri. Senyawa 4′,6-dihydroxy-3′-methoxyaurone menjadi kandidat paling menjanjikan dengan nilai afinitas ikatan tertinggi di antara senyawa yang diuji.

Temuan ini memberikan peluang baru untuk memanfaatkan anggrek merpati, yang selama ini belum sepenuhnya digunakan. Penelitian ini membuka jalan untuk pengembangan produk nutraseutikal yang berbasis bahan alami, sekaligus menegaskan potensi adaptasi tanaman terhadap lingkungan sebagai sumber bahan aktif farmakologis.

Gabung diskusi