Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Tekno

Special Plan: Gambut Ternyata Ikut Membentuk Hujan, Begini Prosesnya

Jennifer Taylor - kabarsaji.com 3 mins read 12 views

Gambut Ternyata Ikut Membentuk Hujan, Begini Prosesnya Special Plan - Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional

Special Plan: Gambut Ternyata Ikut Membentuk Hujan, Begini Prosesnya

Gambut Ternyata Ikut Membentuk Hujan, Begini Prosesnya

Special Plan – Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa gambut bukan hanya berperan sebagai penyimpan karbon, tetapi juga menjadi komponen penting dalam proses pembentukan hujan. Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai keberlanjutan ekosistem gambut dan fungsinya dalam menjaga keseimbangan iklim tropis. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Climate Dynamics oleh Springer Nature pada 2026, dan menekankan peran gambut sebagai ‘mesin uap’ alami yang memengaruhi pola cuaca.

Perubahan Perspektif Sains tentang Gambut

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menjelaskan bahwa konsep Special Plan ini mengubah cara pandang ilmuwan tentang peran gambut dalam lingkungan alam. “Gambut sekarang dilihat sebagai faktor yang memengaruhi sirkulasi udara dan memperkuat pembentukan awan hujan di daerah pesisir tropis,” kata Albertus dalam keterangan tertulis, Senin, 13 Juli 2026. Kebiasaan ilmuwan sebelumnya lebih fokus pada fungsi gambut sebagai penyimpan karbon, tetapi penelitian ini membuktikan bahwa dampaknya terhadap hujan juga signifikan.

Pelaksanaan Penelitian di Bengkalis

Tim peneliti BRIN bekerja sama dengan Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, serta GMIT Mongolia melakukan studi di Pulau Bengkalis, Riau. Wilayah ini masih utuh terdiri dari ekosistem gambut alami, menjadikannya lokasi ideal untuk mengamati interaksi antara lahan gambut dan atmosfer. Konsistensi iklim tropis di sini menjadi fokus utama Special Plan, yang bertujuan memahami peran gambut dalam siklus hidrologi.

Untuk memperoleh data akurat, Albertus mengungkapkan bahwa tim menempatkan radar cuaca polarimetrik X-band Jepang di kompleks STAIN Bengkalis sejak Februari 2020. Radar ini mampu memetakan distribusi hujan setiap lima menit, dengan resolusi ratusan meter dalam jangkauan 50 kilometer. Tingkat akurasi ini langka di Indonesia dan menjadi bagian integral dari Special Plan dalam menguji hipotesis pembentukan hujan melalui gambut.

Pola Hujan yang Terbentuk di Bengkalis

Pola hujan harian di Bengkalis dari Mei hingga Desember 2024 menunjukkan kekonsistenan tinggi, yang menjadi bukti awal Special Plan. Hujan di daerah daratan biasanya terjadi siang hingga sore, sementara di kawasan pesisir dan laut cenderung berlangsung tengah malam hingga subuh. Albertus menjelaskan bahwa konvergensi angin laut dan selat yang dibentuk oleh pulau gambut memperkuat proses pembentukan awan. “Special Plan ini membuktikan bahwa keberadaan gambut menciptakan aliran udara yang lebih efektif, sehingga meningkatkan intensitas hujan,” ujarnya.

Mekanisme Uap Air dalam Gambut

Sifat khas gambut yang selalu lembap menghasilkan pasokan uap air yang besar, yang berperan dalam meningkatkan stabilitas atmosfer. Ketika uap air ini mengembun menjadi awan, panas laten yang dilepaskan memperkuat aliran udara ke atas, menurut Albertus. Proses ini memicu lebih banyak udara lembap dari laut menuju daratan, menciptakan sirkulasi atmosfer yang lebih teratur.

Dalam penelitian Special Plan, model matematika atmosfer digunakan untuk menguji tiga skenario: daerah pesisir tanpa pulau, daerah dengan pulau dan selat, serta daerah gambut yang mempertimbangkan dampak kelembapan. Simulasi menunjukkan bahwa gambut tidak hanya berkontribusi pada sirkulasi udara, tetapi juga memperkuat pola hujan melalui mekanisme yang lebih kompleks.

Implikasi untuk Kebijakan Lingkungan

Temuan dari Special Plan memberikan bukti ilmiah yang kuat terkait konsep biotic pump, yaitu teori bahwa hutan dapat menggerakkan sirkulasi atmosfer melalui evapotranspirasi. Data dari Bengkalis membuktikan konsistensi antara teori, model, dan pengamatan radar, yang memperkuat argumen untuk menjaga ekosistem gambut. Kerusakan gambut, seperti dikeringkan atau terbakar, dapat mengganggu siklus hidrologi dan stabilitas iklim tropis jangka panjang.

Menurut Albertus, kebijakan pengelolaan gambut perlu mempertimbangkan fungsi ekologisnya sebagai pengatur hujan. Special Plan menyoroti bahwa pelestarian gambut bukan hanya soal pengurangan emisi karbon, tetapi juga tentang menjaga ketersediaan air hujan di wilayah maritim Indonesia. “Special Plan ini menjadi dasar untuk mengembangkan kebijakan yang lebih holistik, karena gambut adalah elemen penting dalam sistem iklim,” tambahnya.

Langkah Selanjutnya dalam Penelitian Gambut

Tim peneliti merekomendasikan pengukuran langsung fluks panas laten di lapangan menggunakan metode eddy covariance, yang menjadi bagian dari Special Plan untuk memperkaya data empiris. Mekanisme pengaruh gambut terhadap hujan juga perlu diintegrasikan ke dalam model iklim global, agar prediksi curah hujan di wilayah maritim Indonesia lebih akurat. Dengan data dari Bengkalis, Special Plan memberikan landasan ilmiah baru untuk menguji teori-teori terkait pembentukan hujan.

Gabung diskusi