New Policy: Rano Karno Luncurkan Jakarta Film Commission
Rano Karno Hadirkan Jakarta Film Commission sebagai Bagian dari New Policy New Policy - Dalam rangka mendorong perkembangan industri film, Wakil Gubernur DKI
Rano Karno Hadirkan Jakarta Film Commission sebagai Bagian dari New Policy
New Policy – Dalam rangka mendorong perkembangan industri film, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno meluncurkan Jakarta Film Commission (JFC) sebagai bagian dari New Policy yang bertujuan membangun Jakarta sebagai pusat perfilman nasional dan internasional. Peluncuran ini dilakukan pada Jumat, 26 Juni 2026, di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, dan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan daya saing kota metropolitan ini di ranah kreatif. New Policy ini mencakup berbagai inisiatif untuk mendukung pengembangan industri film, termasuk kebijakan insentif dan fasilitas khusus yang diberikan kepada produser lokal serta asing.
Langkah Strategis untuk Membentuk Ekosistem Sinema yang Kuat
JFC dibentuk dengan harapan mampu menjadi wadah yang mengkoordinasikan seluruh sektor terkait dalam industri film, mulai dari produksi hingga distribusi. Rano Karno menjelaskan bahwa kota-kota dengan pertumbuhan perfilman yang pesat biasanya memiliki film commission untuk mengelola sumber daya, memfasilitasi kerja sama, dan memastikan Jakarta tetap menjadi magnet bagi para kreatif. New Policy ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan kebijakan yang mendukung pengembangan sektor kreatif secara holistik.
Dalam pidatonya, Rano Karno menegaskan bahwa JFC akan menjadi penggerak utama dalam transformasi Jakarta menjadi kota sinema. Ia mengungkapkan bahwa Kota Tua perlu menyiapkan diri dengan sejumlah langkah nyata, termasuk menawarkan lokasi syuting yang menarik dan mengoptimalkan penggunaan teknologi. New Policy ini juga mencakup pengembangan kebijakan yang mempercepat proses izin serta memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang memilih Jakarta sebagai lokasi produksi.
Manfaat New Policy untuk Pelaku Industri Film
Menurut Rano Karno, New Policy yang diusung pemerintah DKI Jakarta akan memberikan peluang besar bagi pelaku industri film di dalam dan luar negeri. Dengan adanya JFC, para produser diberikan kemudahan akses informasi, fasilitas pendukung, dan sinergi antar sektor. Ia juga menyoroti bahwa Jakarta memiliki potensi luar biasa dalam hal keberagaman latar belakang budaya, lanskap alam, serta kehidupan sosial yang bisa dijadikan bahan kreatif. New Policy ini diharapkan mampu menjadikan Jakarta sebagai pusat produksi film yang lebih diminati secara global.
Dalam upaya meningkatkan daya tarik Jakarta, Rano Karno mengungkapkan bahwa Pemerintah DKI Jakarta telah meluncurkan program Filming in Jakarta yang menyasar industri kreatif. Program ini tidak hanya menawarkan kemudahan dalam proses syuting, tetapi juga menyediakan pelatihan, akses ke teknologi, dan dukungan dalam pemasaran. New Policy ini juga mencakup kolaborasi dengan produser asing, seperti Netflix yang berencana memproduksi enam film tambahan di Indonesia, serta produser dari Korea Selatan yang mulai menggeser lokasi syuting ke Kepulauan Seribu.
Menghadapi Perubahan dengan Teknologi AI
Rano Karno mengakui bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menjadi bagian penting dalam New Policy ini. Dalam kunjungan ke Bali untuk forum APOS (Asia Pacific Video Operators Summit), ia mendapat wawasan bahwa AI akan mengubah cara produksi dan distribusi film dalam waktu enam tahun ke depan. Meski ada kekhawatiran bahwa teknologi ini bisa mengurangi ruang kreativitas, Rano Karno menekankan pentingnya adaptasi. Ia menyebutkan bahwa Netflix akan mengembangkan konten berbasis AI melalui kanal khusus, yang menunjukkan bahwa Jakarta tidak hanya mendorong kreativitas manusia, tetapi juga siap menerima perubahan teknologi.
Dengan New Policy yang melibatkan pemanfaatan AI, Jakarta diperkirakan akan menjadi pusat produksi film yang lebih efisien dan inovatif. Rano Karno menyatakan bahwa lembaga ini akan mendukung kemitraan dengan produser internasional, seperti Malaysia, Brunei Darusalam, dan Singapura, yang mulai tertarik untuk menggarap konten di Ibu Kota. Ini menunjukkan bahwa Jakarta tidak hanya menjadi destinasi film, tetapi juga menjadi lokasi yang mampu mengikuti tren terkini di industri kreatif global.
Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno saat meresmikan Jakarta Film Commission di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, 26 Juni 2026. Tempo/Epi Susanti
Menurut data yang diungkapkan, jumlah penonton film Indonesia dari Januari hingga Juni 2026 mencapai sekitar 36 juta orang, dengan proyeksi meningkat menjadi 120 juta orang hingga akhir tahun. New Policy ini berharap mampu mempercepat pertumbuhan tersebut dengan menarik lebih banyak talenta dan produksi. Selain itu, Rano Karno menekankan bahwa JFC akan menjadi fondasi awal untuk pertumbuhan industri film yang berkelanjutan, dengan visi jangka panjang mengubah Jakarta menjadi kota sinema yang diakui secara internasional.
Berikutnya, Rano Karno juga menyebutkan bahwa New Policy akan mencakup kebijakan keuangan dan logistik yang lebih terjangkau bagi perusahaan film. Dengan fasilitas yang ditingkatkan, Jakarta diharapkan bisa menjadi alternatif menarik bagi studio yang biasanya memilih Bali atau Lombok sebagai lokasi syuting. Pengembangan ini sejalan dengan peran JFC sebagai penghubung antara pemerintah, produser, dan pemangku kepentingan lainnya dalam membangun industri film yang inklusif dan berkelanjutan.
