Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Seleb

Facing Challenges: Material Keramik Albert Yonathan dalam Lorong Waktu

Michael Anderson - kabarsaji.com 4 mins read 16 views

Material Keramik Albert Yonathan dalam Lorong Waktu Facing Challenges - Dalam dunia seni yang terus berkembang, seniman asal Bandung, Albert Yonathan

Facing Challenges: Material Keramik Albert Yonathan dalam Lorong Waktu

Material Keramik Albert Yonathan dalam Lorong Waktu

Facing Challenges – Dalam dunia seni yang terus berkembang, seniman asal Bandung, Albert Yonathan Setiawan, kembali memperlihatkan karyanya dalam pameran solo yang berjudul Hypnagogia|Tracing Time, di Ara Contemporary, Senopati, Jakarta Selatan. Pameran ini berlangsung dari 22 Mei hingga 28 Juni 2026 dan menjadi wujud dari perjalanan kreatifnya yang menghadapi berbagai tantangan. Dengan menggabungkan konsep Facing Challenges dalam setiap elemen karya, Albert mencoba menyampaikan perjalanan hidupnya yang penuh perubahan dan refleksi.

Perjalanan yang Membentuk Karya

Albert, yang telah tinggal di Jepang hampir satu dekade, kembali ke Indonesia dengan membawa pengalaman unik yang berpengaruh pada karyanya saat ini. Di Jepang, ia menghadapi tantangan dalam mengadaptasi teknik keramik yang berbeda dari tradisi lokal. Tantangan ini justru mendorongnya untuk mengembangkan pendekatan baru dalam menyampaikan narasi kehidupan urban. “Fasad-fasad bangunan di Tokyo, terutama perkantoran dan apartemen, memberi saya inspirasi yang berbeda dari Kyoto,” ungkapnya. Melalui Facing Challenges dalam proses kreatif, ia mencoba menggambarkan irasionalitas yang muncul dari kehidupan sehari-hari yang penuh keterbatasan.

“Saya menginginkan kesan padat dalam bentuk, tetapi melalui karakter warna dan tekstur, karya ini tetap punya estetika yang menarik,” tambah Albert.

Karyanya dalam pameran ini menonjolkan kesan kehidupan yang surreal, di mana elemen-elemen arsitektural yang terkesan kaku dan sederhana dipadukan dengan makna mendalam. Ia menggunakan tanah liat putih sebagai bahan dasar, kemudian memadukan dengan mangaan untuk menciptakan warna coklat muda. Proses ini tidak hanya menunjukkan Facing Challenges dalam teknik, tetapi juga dalam menciptakan harmoni antara kekuatan dan kelemahan bahan.

Pengalaman Kreatif di Tengah Perubahan

Dalam ruang pamer yang berbeda, Albert menampilkan instalasi karya yang terdiri dari 310 cetakan miniatur. Setiap cetakan memiliki tinggi tidak lebih dari 10 sentimeter, dengan bentuk yang menyamai landasan bunga teratai. Pilihan ini mencerminkan Facing Challenges dalam menggambarkan kehidupan yang terkesan sederhana tetapi penuh makna. “Dengan satu cetakan, saya menciptakan keberagaman bentuk yang terasa akrab dalam lingkungan kota,” katanya. Konsep ini juga menciptakan interaksi visual yang unik, menggabungkan estetika keramik dengan ilmu pencahayaan untuk menghidupkan karya statis.

“Cahaya yang saya gunakan menyerupai sinar matahari pagi atau sore. Ini memberi dimensi dinamis ke dalam karya yang biasanya kaku,” jelas Albert.

Karya-karya ini tidak hanya menjadi simbol dari Facing Challenges, tetapi juga sebagai perwujudan dari kehidupan urban yang terus berubah. Dengan menggambarkan fasad-fasad bangunan yang berulang dan menyerupai organisme, ia menciptakan kesan yang menggabungkan kehidupan nyata dengan kehidupan batin. “Tantangan dalam menggambar ulang bangunan-bangunan itu membuat saya lebih memahami struktur yang sempurna dan ketidaksempurnaan kehidupan manusia,” ujarnya.

Refleksi dalam Momen Waktu

Pameran ini juga menghadirkan elemen Facing Challenges melalui konsep lorong waktu yang diusungnya. Dengan menempatkan karya-karya di ruang yang berbeda, Albert menciptakan atmosfer yang memaksa pengunjung merenungkan makna waktu dan kehidupan. “Waktu adalah konsep yang kompleks, tetapi saya mencoba menyampaikannya melalui bentuk-bentuk yang sederhana. Ini adalah cara saya menghadapi tantangan untuk membuat sesuatu yang berbicara banyak,” terangnya.

“Setiap cetakan miniatur adalah bagian dari perjalanan menuju kesempurnaan, meskipun awalnya terasa sulit,” imbuh Albert.

Sebagai seniman yang pernah mewakili Indonesia di Venice Biennale, Albert menekankan bahwa Facing Challenges adalah bagian integral dari proses kreatif. Dalam pameran ini, ia menampilkan kehidupan kota yang terkesan monoton menjadi sesuatu yang bernilai estetika dan filosofis. “Saya ingin orang-orang melihat kehidupan sehari-hari dengan perspektif baru. Ini adalah tantangan terbesar saya,” katanya, menggambarkan bagaimana perjalanan kreatifnya adalah bentuk Facing Challenges dalam mengubah pola pikir.

Perjalanan Kreatif dan Nilai Seni

Karya-karya Albert tidak hanya menonjolkan keindahan keramik, tetapi juga menceritakan perjalanan kreatif yang penuh Facing Challenges. Dengan menggabungkan teknik cetakan tradisional dan inspirasi dari lingkungan urban, ia menciptakan seni yang memadukan masa lalu dengan masa kini. “Saya selalu berusaha mencari cara baru untuk menyampaikan konsep yang sudah ada, tetapi dengan perspektif yang berbeda,” jelasnya. Proses ini memperlihatkan bagaimana Facing Challenges tidak hanya sebagai hambatan, tetapi juga sebagai peluang untuk berkembang.

“Melalui keramik, saya bisa menyampaikan irasionalitas yang muncul dari kehidupan yang penuh tekanan. Ini adalah bagian dari perjalanan saya menghadapi tantangan,” kata Albert.

Pameran ini menjadi bukti bahwa Facing Challenges dalam seni bukan hanya tentang mengatasi rintangan, tetapi juga tentang memahami makna di balik setiap bentuk. Dengan menggambarkan konsep waktu dan kehidupan urban, Albert mengajak para pengunjung untuk merenungkan bagaimana seni bisa menjadi cermin dari perjalanan pribadi dan masyarakat. “Setiap karya adalah cerita tentang bagaimana saya menghadapi perubahan dan mencari maknanya,” pungkasnya, menggambarkan Facing Challenges sebagai inti dari karyanya.

Gabung diskusi