Live voltage Agustus 2, 2026
Power Radar
Nasional

Key Discussion: Save The Children: 11,5 Juta Anak RI Pernah Alami Kekerasan

William Lopez - kabarsaji.com 4 mins read 18 views

scussion: Save The Children: 11,5 Juta Anak RI Pernah Alami Kekerasan Key Discussion menyatakan bahwa kekerasan terhadap anak di Indonesia tetap menjadi isu

Key Discussion: Save The Children: 11,5 Juta Anak RI Pernah Alami Kekerasan

Key Discussion: Save The Children: 11,5 Juta Anak RI Pernah Alami Kekerasan

Key Discussion menyatakan bahwa kekerasan terhadap anak di Indonesia tetap menjadi isu kritis yang perlu mendapat perhatian serius. Dalam laporan terbarunya, Save The Children mengungkapkan bahwa sekitar 11,5 juta anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya. Angka ini berasal dari survei yang mencakup anak usia 13 hingga 17 tahun, dimana sebanyak 50,78 persen dari jumlah tersebut mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikologis. Key Discussion menyoroti bahwa kekerasan tidak hanya terjadi di lingkungan keluarga, tetapi juga melibatkan berbagai faktor sosial, ekonomi, dan teknologi yang berdampak luas pada kehidupan anak.

“Key Discussion menekankan bahwa kekerasan terhadap anak adalah bagian dari ekosistem yang kompleks dan perlu dilihat secara holistik,” ujar Tata Sudrajat, Senior Director Advocacy Campaign and Government Relations Save the Children Indonesia, dalam diskusi media bertajuk “Mengawal Ekosistem Perlindungan Anak” di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026. Ia menambahkan, kekerasan yang terjadi tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik anak, tetapi juga berdampak pada perkembangan psikologis dan sosial mereka.

Kemiskinan Anak dan Faktor Pendorong Kerentanan

Key Discussion mengidentifikasi kemiskinan sebagai salah satu faktor utama yang memperbesar kerentanan anak terhadap kekerasan. Dengan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sebanyak 11,44 persen anak usia 0 hingga 17 tahun masih hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Kondisi ini, kata Tata, meningkatkan risiko anak mengalami kekurangan gizi, kesulitan pendidikan, hingga eksploitasi di berbagai aspek kehidupan. Dalam Key Discussion, ia menyoroti bahwa ketimpangan ekonomi dan akses terhadap sumber daya memperkuat hubungan antara kemiskinan dan kekerasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak jalanan dan anak dalam kondisi terlantar.

Key Discussion juga menekankan pentingnya pengasuhan yang baik dalam mencegah terjadinya kekerasan. Dalam survei yang dilakukan, 4,58 persen balita di Indonesia mengalami perawatan yang kurang memadai, sementara 3,06 persen anak tidak tinggal bersama kedua orang tua atau pengasuh utamanya. “Key Discussion menyebutkan bahwa kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar adalah penyebab utama dari terjadinya kekerasan,” lanjut Tata. Ia menambahkan, perlu adanya kebijakan yang lebih kuat untuk memastikan setiap anak merasakan perlindungan dari segala bentuk kekerasan.

Pengasuhan serta Pekerjaan Anak

Key Discussion menyoroti bahwa sebanyak 1,37 persen anak di Indonesia berada dalam kondisi terlantar, yang memperbesar kemungkinan mereka mengalami kekerasan. Situasi ini terjadi karena banyak anak yang terpaksa bekerja sebelum usia ideal untuk belajar dan berkembang. Menurut data Save The Children, ada sekitar 1,01 juta pekerja anak yang bekerja penuh waktu, sementara 3,05 juta anak lainnya terlibat dalam pekerjaan sambilan. “Key Discussion menegaskan bahwa pekerjaan anak yang terlalu dini tidak hanya mengganggu pertumbuhan fisik, tetapi juga meningkatkan risiko eksploitasi dan trauma psikologis,” jelas Tata.

Key Discussion menekankan bahwa pengasuhan yang baik adalah kunci dalam mengurangi tingkat kekerasan. Anak yang diperlakukan dengan kasih sayang dan didukung oleh lingkungan keluarga cenderung lebih resilien terhadap tekanan sosial. Namun, pada keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, anak seringkali menjadi korban untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Key Discussion meminta pemerintah dan masyarakat untuk menyadari bahwa kekerasan bukan hanya soal penganiayaan fisik, tetapi juga terkait dengan ketidakadilan dan kurangnya kesadaran akan hak anak,” tambahnya.

Dampak Bencana Alam terhadap Kesejahteraan Anak

Key Discussion tidak hanya melibatkan isu kekerasan di lingkungan sosial, tetapi juga mencakup dampak dari bencana alam terhadap kesejahteraan anak. Tahun 2025 menunjukkan adanya 4.727 bencana di berbagai wilayah Indonesia, yang mengancam fasilitas kesehatan, sekolah, dan tempat tinggal. “Key Discussion menyatakan bahwa bencana alam memperparah kerentanan anak, terutama di daerah terpencil yang belum memiliki infrastruktur memadai,” ujar Tata. Contohnya, bencana yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada akhir 2025 masih menyisakan efek jangka panjang, yang mengganggu pemenuhan hak anak.

Key Discussion menekankan bahwa bencana alam tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga memengaruhi mental anak. Anak-anak yang tinggal di daerah yang terkena bencana seringkali mengalami stres, trauma, dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. “Key Discussion menyoroti bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas dalam setiap rencana pemulihan pasca-bencana,” tutur Tata. Ia berharap pemerintah dan lembaga-lembaga lokal dapat bekerja sama dalam memberikan dukungan psikologis, pendidikan, dan layanan dasar kepada anak-anak yang terdampak.

Langkah Strategis dalam Key Discussion

Key Discussion juga memberikan rekomendasi strategis untuk menangani masalah kekerasan terhadap anak. Salah satu langkah utama yang disarankan adalah peningkatan akses pendidikan dan pelatihan bagi orang tua. “Key Discussion menekankan bahwa orang tua yang memiliki pengetahuan tentang cara mengasuh anak akan lebih mampu mencegah terjadinya kekerasan,” jelas Tata. Selain itu, Key Discussion menyarankan penguatan kebijakan perlindungan anak di tingkat lokal, dengan melibatkan masyarakat, lembaga, dan pemerintah dalam upaya mencegah kekerasan sejak dini.

Dalam Key Discussion, Save The Children mengajak semua pihak untuk melakukan kolaborasi yang lebih intensif. “Key Discussion mengingatkan bahwa penanganan kekerasan terhadap anak tidak bisa dilakukan secara mandiri, tetapi membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai pihak,” tambah Tata. Ia menyoroti bahwa perlu adanya program-program yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan anak, serta memberikan dukungan finansial dan psikologis kepada keluarga yang membutuhkan.

Gabung diskusi