Main Agenda: Alasan BEM UI Gelar Salemba Berseru
Alasan BEM UI Gelar Salemba Berseru Main Agenda, sebuah peristiwa kunci dalam agenda mahasiswa, menjadi sorotan utama saat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
Alasan BEM UI Gelar Salemba Berseru
Main Agenda, sebuah peristiwa kunci dalam agenda mahasiswa, menjadi sorotan utama saat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi simbolik dengan tema “Salemba Berseru: Seni Lawan Tirani” di halaman Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, pada Ahad, 12 Juli 2026. Acara ini bukan hanya sekadar bentuk protes, tetapi juga upaya memperkuat perlawanan terhadap sistem pemerintahan yang dianggap tidak representatif dan korup. Kampus Salemba, sebagai lokasi simbolik pergerakan mahasiswa di masa lalu, kembali dijadikan panggung untuk menyuarakan isu-isu yang relevan dengan Main Agenda saat ini.
Makna Sejarah Kampus Salemba
Kampus Salemba memiliki makna yang mendalam dalam sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia. Dulu, lokasi ini menjadi tempat berkumpulnya ratusan ribu mahasiswa yang ingin berdemo ke Senayan, Jakarta, pada tahun 1998. Saat itu, para mahasiswa menyuarakan tuntutan untuk mengakhiri kekuasaan Soeharto, yang dianggap memperkuat pemerintahan otoriter. Melalui Main Agenda ini, BEM UI ingin mengingatkan kembali peran mahasiswa sebagai penjaga keadilan dan pendorong perubahan.
Dalam orasinya, Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, mengatakan bahwa Main Agenda menjadi platform untuk menanyakan pada penguasa, terutama dalam konteks negara yang saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan. “Pertanyaan yang selalu muncul adalah untuk siapa kalian berkuasa,” ujarnya. Ia menekankan bahwa isu keberpihakan dan transparansi pemerintah tetap menjadi fokus utama dalam aksi Salemba Berseru, yang diharapkan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat tentang kritik terhadap kebijakan yang berdampak luas pada masyarakat.
“Main Agenda ini adalah refleksi dari semangat perlawanan yang selalu hidup dalam diri mahasiswa, baik dalam masa pemerintahan lalu maupun saat ini,”
Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI, Albani Ilmi, menjelaskan bahwa pilihan Kampus Salemba sebagai lokasi acara bertujuan menggambarkan kondisi negara yang tidak stabil. Menurut Albani, kebijakan pemerintah saat ini, terutama dalam hal tata kelola kebijakan fiskal, masih memicu kritik yang signifikan. Ia mengungkapkan bahwa Main Agenda kali ini menyasar isu-isu seperti program makan bergizi gratis yang terdampak korupsi, serta koperasi desa merah putih yang dianggap mengarah pada peningkatan pengaruh militer.
Perkembangan Aksi Demonstrasi
Acara Salemba Berseru merupakan bagian dari rangkaian kegiatan BEM UI yang mengikuti aksi demonstrasi besar di Bundaran HI, Jakarta, bulan Juni lalu. Selain itu, mereka juga telah melakukan sosialisasi dan kampanye isu-isu nasional di area car free day, sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap perubahan yang diperlukan. Albani menyatakan bahwa Main Agenda ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat suara mahasiswa, yang dianggap sebagai garda depan dalam memperjuangkan keadilan.
“Agustus mendatang menjadi bulan kritis karena jatuh tempo utang negara dan pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027. Main Agenda ingin menjadi suara untuk menegaskan bahwa krisis sosial, politik, dan ekonomi tidak boleh dibiarkan terus berlanjut,”
Pada acara ini, sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai universitas seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Diponegoro (UNDIP) turut hadir. Mereka berpartisipasi dalam menyampaikan orasi, memperkuat pesan perlawanan terhadap sistem pemerintahan yang dianggap tidak efektif. Albani berharap kehadiran mereka dapat menunjukkan solidaritas antar kampus dalam menegaskan Main Agenda yang sama: keadilan, transparansi, dan perubahan sosial yang lebih inklusif.
Acara yang berlangsung di bawah langit Jakarta ini menampilkan berbagai elemen kreatif, seperti pertunjukan musik dan pameran seni. Albani menjelaskan bahwa bentuk-bentuk ekspresi ini tidak hanya memperkaya alur aksi, tetapi juga menggambarkan kekuatan seni sebagai alat perlawanan. “Dengan Main Agenda ini, kita ingin menegaskan bahwa perlawanan tidak hanya bersifat politik, tetapi juga budaya dan sosial,” tambahnya.
