Live voltage Agustus 3, 2026
Power Radar
Metro

Main Agenda: Kilas Balik Anggota Densus 88 yang Ditangkap Bais TNI

Nancy Martin - kabarsaji.com 3 mins read 16 views

Kilas Balik Anggota Densus 88 yang Ditangkap Bais TNI Main Agenda: Konflik TNI-Polri yang Mengguncang Pemikiran Publik Main Agenda – Penangkapan anggota

Main Agenda: Kilas Balik Anggota Densus 88 yang Ditangkap Bais TNI

Kilas Balik Anggota Densus 88 yang Ditangkap Bais TNI

Main Agenda: Konflik TNI-Polri yang Mengguncang Pemikiran Publik

Main Agenda – Penangkapan anggota Densus 88 oleh Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI menjadi sorotan publik karena menggambarkan dinamika hubungan antara dua institusi keamanan yang selama ini dianggap bersinergi. Briptu Faisal Faizurrahman, anggota Densus 88, ditangkap setelah mengikuti Ferry Yanto Hongkiriwang pada tahun 2025. Ferry, yang dikenal sebagai pengusaha bernama “Boboho”, diduga terlibat dalam kegiatan intelijen bersama Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung. Penangkapan ini menimbulkan pertanyaan tentang koordinasi dan transparansi dalam operasi anti-terorisme.

Menurut laporan Tempo, Ferry Yanto Hongkiriwang ditangkap oleh penyidik Polda Metro Jaya pada Senin, 28 Juli 2025, atas dugaan melakukan tindak pidana penculikan, penganiayaan, dan menghalangi proses penyidikan. Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) diterbitkan oleh kepolisian, memicu langkah-langkah penyelidikan lebih lanjut. Main Agenda menjadi topik utama dalam diskusi mengenai efektivitas kerja sama antara TNI dan Polri dalam menyelidiki kegiatan teroris.

“SPDP atas nama FYH (Ferry Yanto Hongkiriwang) diterima pada 30 Juli 2025, dan penyidikan dilakukan secara terbuka,” jelas Pelaksana Harian Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Jakarta Rans Fismy kepada Tempo, Rabu, 6 Agustus 2025. Pernyataan ini memperjelas bahwa penangkapan terjadi dalam kerangka kerja sama intelijen antara TNI dan Polri, yang menurut Main Agenda, menjadi fokus utama dalam penyelidikan.

Insiden Penculikan dan Kejadian di Cipete

Penangkapan Briptu Faisal Faizurrahman disinyalir berkaitan dengan insiden penculikan yang terjadi di sebuah restoran Prancis bernama Gontran Cherrier, kini berubah menjadi Cafe de’Clan Signature, di Cipete, Jakarta Selatan, pada Ahad, 19 Mei 2024. Tempo mencatat, anggota Densus 88 itu pernah berada di lokasi yang sama dengan personel yang mengawasi Jampidsus Febrie Adriansyah. Main Agenda mengungkap bahwa kejadian ini tidak hanya menyangkut operasi intelijen, tetapi juga menjadi indikator ketegangan antar institusi keamanan.

Dalam laporan Tempo, Briptu Faisal ditangkap setelah membuntuti Ferry Yanto Hongkiriwang di Bogor Cafe, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada 25 Juli 2025. Saat itu, Ferry menghubungi seorang perwira TNI untuk melaporkan pengawasan terhadapnya, lalu memerintahkan personel Bais TNI datang ke lokasi. Main Agenda menggambarkan proses ini sebagai langkah strategis dalam mengungkap jaringan intelijen yang mungkin terlibat dalam operasi anti-teror.

Pada pertemuan di Kaje Eatery & Coffee, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, pada Ahad, 27 Juli 2025, Briptu Faisal diperiksa oleh TNI dan Polri. Menurut pramusaji Sabrina, pertemuan tersebut berlangsung di area restoran yang terletak antara bangunan joglo dan taman belakang. Rombongan TNI-Polri memblokir parkir dan bangunan joglo sejak siang hingga malam. Main Agenda mengkritik proses ini sebagai contoh ketidakseimbangan dalam pengambilan keputusan intelijen.

Setelah negosiasi antara TNI dan Polri, Briptu Faisal dibebaskan setelah menandatangani berita acara serah terima di atas kop surat Biro Pengamanan Internal Polri. Proses ini melibatkan dua perwira menengah, satu dari TNI berpangkat kolonel dan satu dari Polri berpangkat komisaris besar. Main Agenda menyoroti bagaimana penangkapan ini memperlihatkan keterlibatan Bais TNI dalam operasi anti-teror yang dianggap sensitif.

Latar belakang Ferry Yanto Hongkiriwang sebagai pengusaha yang diduga memiliki kontak erat dengan Jampidsus Kejaksaan Agung menjadi faktor penting dalam penangkapan Briptu Faisal. Main Agenda menyebutkan bahwa hubungan ini mengindikasikan adanya jaringan intelijen yang melibatkan kekuatan luar dan dalam. Dengan adanya penangkapan ini, pemerintah mencoba memperkuat kredibilitas operasi anti-teror, meski juga memicu pertanyaan tentang kejelasan prosedur dan keterbukaan informasi.

Gabung diskusi