Live voltage Agustus 3, 2026
Power Radar
Nasional

New Policy: Mendikti Brian Kritik Kultur Orang Indonesia yang Gemar Dipanggil Profesor

Robert Hernandez - kabarsaji.com 3 mins read 10 views

New Policy: Mendikti Brian Kritik Budaya Penggunaan Gelar Profesor di Indonesia Pengenalan Kebijakan Baru New Policy - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan

New Policy: Mendikti Brian Kritik Kultur Orang Indonesia yang Gemar Dipanggil Profesor

New Policy: Mendikti Brian Kritik Budaya Penggunaan Gelar Profesor di Indonesia

Pengenalan Kebijakan Baru

New Policy – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memberikan kritik tajam terhadap kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar menggunakan gelar akademik sebelum mendapatkan keahlian yang sesungguhnya. Dalam pidato pada acara Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Penerima Beasiswa Garuda Tahun 2026, ia menyebut ini sebagai kebiasaan yang tidak ditemukan di negara lain, termasuk dalam New Policy yang diusahakannya.

“Saat SK belum terbit, banyak orang sudah mulai meminta gelar ‘Profesor’. Mereka belum bahkan memegang surat keterangan lulus dari program magister, tapi sudah ingin disebut profesor,” ujarnya dalam pidato di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Juli 2026.

Peran New Policy dalam Menata Budaya Akademik

Kritik Brian Yuliarto mengenai budaya penggunaan gelar akademik di Indonesia sejalan dengan tujuan New Policy untuk memperkuat integritas pendidikan tinggi. Kebijakan ini bertujuan mengatasi kesenjangan antara penghargaan gelar dan kualitas pendidikan yang diberikan. Brian menyampaikan bahwa tindakan ini mengakui pentingnya proses belajar yang sungguh-sungguh, bukan hanya pengakuan secara cepat.

Menurut Brian, New Policy menjadi alat untuk memastikan bahwa gelar akademik hanya diberikan setelah seseorang benar-benar memenuhi standar kualifikasi. Ia menyoroti bahwa kebiasaan menyebut seseorang sebagai profesor tanpa memiliki bukti kompetensi bisa menurunkan kredibilitas institusi pendidikan. “New Policy ini memberikan jaminan bahwa gelar akademik diakui secara merata dan tidak terburu-buru,” tambahnya.

“Orang hebat tidak banyak drama atau tampil mencolok. Mereka bekerja dengan tekun dan konsisten,” kata Brian mengutip ucapan sang profesor.

Pelajaran dari Profesor Internasional

Dalam pidatonya, Brian juga menyebutkan contoh dari Omar M. Yaghi, profesor kimia asal Palestina-Yordania-Amerika yang menjuarai Nobel Kimia pada 2025. Ia dikenal sebagai pionir dalam pengembangan Metal-Organic Frameworks (MOFs), bahan berpori inovatif yang mampu menyimpan gas dan menyerap air dari udara. Omar M. Yaghi memberikan pelajaran bahwa gelar akademik bukanlah tujuan utama, tetapi alat untuk menunjukkan prestasi.

Menurut Brian, Omar M. Yaghi tidak pernah terburu-buru mencari pengakuan setelah mendapatkan gelar. Ia memperlihatkan bahwa keberhasilan akademik datang dari kesabaran dan dedikasi. “New Policy ini mengajarkan bahwa gelar harus menjadi pengakuan akhir, bukan awal dari proses karier,” jelasnya.

Penerapan New Policy dalam Pendidikan Tinggi

Sebagai bagian dari New Policy, Kemendiktisaintek memberikan aturan lebih ketat dalam penerbitan surat keterangan gelar. Proses ini dilakukan secara transparan untuk memastikan bahwa setiap gelar akademik diakui sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Brian menekankan bahwa New Policy ini tidak hanya berlaku untuk calon profesor, tetapi juga untuk seluruh level pendidikan.

Perubahan ini berdampak signifikan pada kualitas akademik di Indonesia. Dengan New Policy, masyarakat diharapkan lebih memahami bahwa gelar akademik adalah hasil dari proses belajar yang intensif dan bukan sekadar label status. Brian berharap New Policy dapat membantu mengubah persepsi masyarakat terhadap pendidikan tinggi, sehingga lebih menghargai keahlian yang benar-benar terbukti.

Kompetensi dan Relevansi New Policy

New Policy juga memperkuat kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Brian menegaskan bahwa penggunaan gelar akademik secara sembarangan bisa mengakibatkan masyarakat tidak memperhatikan keahlian yang sebenarnya. Dengan adanya New Policy, ia menjamin bahwa gelar akan diberikan setelah seseorang memenuhi syarat dan memberikan kontribusi yang nyata.

Brian menambahkan bahwa New Policy ini bukan hanya untuk mengatasi masalah internal, tetapi juga sebagai bentuk perbaikan nasional dalam pendidikan tinggi. “Gelar akademik harus menjadi cermin dari kemampuan individu, bukan simbol kebanggaan yang terburu-buru,” pungkasnya. Kritik ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat Indonesia agar tidak terjebak dalam budaya panggilan gelar yang tidak sesuai.

Gabung diskusi