Live voltage Agustus 3, 2026
Power Radar
Nasional

What Happened During: Penjelasan PSI soal Jokowi Letakkan Kaki di Atas Kepala Kerbau

Mark Hernandez - kabarsaji.com 3 mins read 11 views

What Happened During: Jokowi Letakkan Kaki di Atas Kepala Kerbau What Happened During sebuah momen viral di media sosial terjadi saat mantan Presiden Joko

What Happened During: Penjelasan PSI soal Jokowi Letakkan Kaki di Atas Kepala Kerbau

What Happened During: Jokowi Letakkan Kaki di Atas Kepala Kerbau

What Happened During sebuah momen viral di media sosial terjadi saat mantan Presiden Joko Widodo menghadiri acara penyematan gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” di Lampung, pada Sabtu, 27 Juni 2026. Dalam prosesi tersebut, Jokowi ditemukan berdiri dengan kaki di atas kepala kerbau, yang segera menjadi perbincangan hangat di berbagai platform. Momen ini tidak hanya memicu reaksi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tetapi juga memperlihatkan peran adat budaya dalam mengiringi kegiatan politik.

Konteks Kunjungan dan Prosesi Adat

Kunjungan Jokowi ke Lampung merupakan bagian dari rangkaian pertemuan dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep. Acara penyematan gelar adat ini diselenggarakan dalam rangka memperingati tradisi lokal yang kini diakui sebagai simbol kehormatan. Menurut informasi yang dihimpun, Jokowi secara aktif terlibat dalam prosesi adat tersebut, termasuk berdiri di depan kerbau untuk menerima penghargaan.

Prosesi “Baginda Pemuka Bangsa” dianggap sebagai bagian dari kebudayaan Lampung yang kental dengan ritual-ritual tradisional. Sebagai bagian dari upacara, para peserta melakukan tata cara tertentu, termasuk posisi tubuh yang dianggap sopan dan respek terhadap simbol-simbol lokal. Tindakan Jokowi dalam momen ini dianggap sebagai bentuk penghormatan, meski secara visual menimbulkan interpretasi yang beragam.

Kritik dari PDIP dan Simbol Partai

What Happened During kunjungan Jokowi tersebut langsung menuai kritik dari PDIP, partai yang pernah mendukungnya. Politisi PDIP, Mohamad Guntur Romli, menyoroti perbedaan simbol yang digunakan. Sementara PSI memilih kerbau sebagai simbol, PDIP lebih mengutamakan banteng, yang dianggap lebih representatif untuk partai mereka. Hal ini memicu komentar bahwa tindakan Jokowi terkesan mencerminkan ambisi kekuasaan yang tak terbatas.

Dalam pernyataannya, Guntur menyebut bahwa posisi kaki Jokowi di atas kepala kerbau adalah “bentuk kesombongan” yang menunjukkan keinginan berkuasa tanpa batas. Ia menambahkan, apa yang terjadi selama prosesi tersebut bisa diartikan sebagai penunjukan dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin menegaskan dominasi politik mereka. Meski demikian, kejadian ini juga menjadi bahan analisis budaya dan politik yang lebih luas.

Penjelasan dari PSI dan Tokoh Lokal

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI, Bestari Barus, menjelaskan bahwa Jokowi hadir dalam prosesi adat karena diundang oleh tokoh masyarakat setempat. “Itu yang mengundang, jadi Pak Jokowi diberikan gelar,” ujarnya saat dihubungi Ahad, 28 Juni 2026. Penjelasan ini bertujuan untuk memberi konteks bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari ritual budaya yang diakui oleh masyarakat Lampung.

“Itu kan adat budaya kita, bagian daripada adat budaya. Enggak mungkin Pak Jokowi kemudian melakukan hal-hal yang di luar daripada adat budaya tersebut,” tambah Bestari. Ia menekankan bahwa acara tersebut mengutamakan penghormatan terhadap tradisi lokal, bukan hanya sebagai bentuk permainan politik.

Bestari juga menanggapi tuduhan bahwa tindakan Jokowi menunjukkan kesombongan. Menurutnya, para kritikus yang menilai demikian justru mengabaikan nilai-nilai adat yang dihormati oleh masyarakat setempat. “Saya kira itu bukan kesengajaan, (bukan) supaya melambangkan sesuatu seperti dituduhkan oleh orang yang mulutnya nyinyir,” kata Bestari.

Respon Publik dan Analisis Media

What Happened During momen viral ini memicu berbagai reaksi di media sosial, baik dukungan maupun kritik. Beberapa netizen menganggap tindakan Jokowi sebagai bentuk kreativitas dalam merayakan budaya lokal, sementara lainnya memandangnya sebagai tanda ambisi politik. Media lokal dan nasional menyoroti kejadian ini sebagai contoh bagaimana budaya bisa menjadi alat untuk membangun hubungan politik.

Analisis dari para peneliti menunjukkan bahwa peristiwa ini menggambarkan hubungan dinamis antara adat budaya dan agenda politik. Prosesi adat “Baginda Pemuka Bangsa” yang diakui oleh masyarakat Lampung menjadi ruang untuk menunjukkan keberagaman simbol dan makna dalam dunia politik. Sejumlah ulasan menekankan bahwa tindakan Jokowi bukanlah kesalahan, melainkan refleksi dari keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.

Implikasi Politik dan Perkembangan Selanjutnya

What Happened During prosesi adat ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya pemahaman budaya dalam konteks politik. PSI berupaya memperkuat citra kebudayaan sebagai bagian dari identitas partai mereka, sementara PDIP menganggap tindakan tersebut sebagai pertanda perubahan kekuasaan. Perbedaan ini mungkin menjadi bahan perdebatan dalam dinamika politik masa depan.

Kontroversi ini juga memicu pertanyaan tentang peran simbol-simbol dalam menyampaikan pesan politik. Apa yang terjadi di Lampung bisa menjadi contoh bagaimana budaya dan politik saling memengaruhi, baik secara langsung maupun melalui interpretasi masyarakat. Prosesi adat yang dihadiri oleh tokoh nasional menunjukkan bahwa budaya lokal tidak hanya dihormati tetapi juga menjadi bagian dari narasi politik yang lebih luas.

Gabung diskusi