Live voltage Agustus 3, 2026
Power Radar
Nasional

Menelusur dan Memotret Budaya Jalanan di Jakarta

Robert Hernandez - kabarsaji.com 4 mins read 17 views

Menelusur dan Memotret Budaya Jalanan di Jakarta - Dalam rangkaian acara Scene & Vol.1, komunitas Unframed.it menggelar tur jalanan Jakarta yang menarik

Menelusur dan Memotret Budaya Jalanan di Jakarta

Menelusur dan Memotret Budaya Jalanan di Jakarta

Menelusur dan Memotret Budaya Jalanan di Jakarta – Dalam rangkaian acara Scene & Vol.1, komunitas Unframed.it menggelar tur jalanan Jakarta yang menarik perhatian masyarakat sekitar dan penggiat seni. Acara yang berlangsung di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada 27 Juni 2026, bertema “Telusur Budaya: Menjaga Ruang Hidup Bersama di Jalan.” Kegiatan ini bertujuan untuk menggali makna budaya jalanan sebagai bagian dari identitas kota yang khas, sekaligus mengajak masyarakat merenungkan bagaimana penggunaan ruang publik mencerminkan kebiasaan dan nilai-nilai sosial. Dengan menelusur dan memotret budaya jalanan, peserta diharapkan dapat melihat pola interaksi yang terjadi di ruang-ruang terbuka, baik dalam bentuk tindakan sehari-hari maupun ekspresi kreatif yang muncul dari situasi kota yang sibuk.

Budaya Publik sebagai Cerminan Kehidupan

Menelusur dan memotret budaya jalanan tidak hanya sekadar melihat kegiatan di jalan, tetapi juga mengamati bagaimana masyarakat Jakarta mengatur ruang untuk kebutuhan sosial, ekonomi, dan budaya. Ruang publik di kota ini sering kali menjadi tempat pertemuan, aktivitas ekonomi, dan kegiatan keagamaan atau tradisional. Dalam acara ini, peserta diberi kesempatan untuk melihat cara penggunaan ruang yang tak selalu optimal, seperti trotoar yang digunakan untuk tempat berjualan, atau jalur lalu lintas yang ditempati pejalan kaki. Perilaku ini mencerminkan bagaimana budaya jalanan Jakarta menggabungkan kebutuhan praktis dengan kehidupan sosial yang dinamis.

Budaya jalanan juga memperlihatkan cara masyarakat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sering kali terbatas. Misalnya, interaksi antar pengguna jalan—mulai dari anak-anak bermain di trotoar hingga warga berjualan—menunjukkan bagaimana ruang kota menjadi pusat aktivitas sehari-hari. Ini bukan hanya tentang ketidakteraturan, tetapi juga tentang adaptasi yang berkelanjutan, serta ekspresi kebudayaan yang terus berkembang di tengah tantangan urbanisasi.

Walking Tour di Menteng: Sejarah dan Tantangan

Tur jalanan dimulai dengan pengunjung menjelajahi Menteng, salah satu area bersejarah yang dirancang sebagai kota taman pertama di Indonesia selama masa kolonial Belanda. Menelusuri budaya jalanan di sini berarti mengamati bagaimana kehidupan kota yang modern menggabungkan nilai-nilai lama dengan tuntutan kehidupan sekarang. Di Menteng, peserta diberi panduan untuk melihat bagaimana bangunan tua dan ruang publik yang terbatas tetap menjadi tempat interaksi sosial yang hidup.

Peserta tur juga diajak untuk berdiskusi tentang tantangan dalam mempertahankan budaya jalanan. Salah satu topik yang muncul adalah bagaimana kota yang semakin padat memaksa masyarakat mengubah cara berinteraksi di ruang terbuka. Misalnya, trotoar yang biasa digunakan untuk berjalan kaki kini sering dijadikan tempat parkir atau tempat berjualan. Perubahan ini menciptakan dinamika baru, tetapi juga mengundang pertanyaan tentang keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kenyamanan bersosialisasi.

Ketua Komunitas Peruja: Perbedaan Budaya di Jakarta

Ketua komunitas Peruja, Rindy Atmoko, mengungkapkan pengalamannya dalam kegiatan ini. “Menelusuri budaya jalanan Jakarta memberi saya kesan bahwa kesibukan di sini sangat berbeda dibandingkan dengan tempat saya,” katanya. Menurut Rindy, budaya jalanan menciptakan dinamika sosial yang unik, di mana kepadatan dan keberagaman menjadi bagian dari kehidupan yang terus berjalan. Ini juga menjadi cerminan bagaimana masyarakat Jakarta menghadapi tantangan urbanisasi tanpa kehilangan makna kebersamaan.

“Menelusuri budaya jalanan Jakarta itu seperti memahami cara kehidupan yang terus berjalan di tengah kepadatan. Kesibukan di sini menunjukkan bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dengan ruang yang terbatas, tapi tetap menyisihkan waktu untuk bersosialisasi.”

CEO Step Into Jakarta: Perubahan Perilaku Setelah Pandemi

CEO Step Into Jakarta, Indra Diwangkara, menyoroti bagaimana minat terhadap jalan kaki meningkat setelah pandemi. “Menelusur budaya jalanan menjadi lebih diminati, terutama karena jalan kaki memberi manfaat kesehatan, biaya rendah, dan memungkinkan interaksi langsung dengan lingkungan sekitar,” ujarnya. Menurut Indra, tren ini sejalan dengan fokus pemerintah Jakarta pada urban tourism dan pembangunan yang lebih ramah lingkungan. Dengan menelusuri budaya jalanan, peserta bukan hanya menikmati pengalaman visual, tetapi juga menyadari bagaimana tindakan kecil bisa berkontribusi pada pengembangan kota yang lebih baik.

“Karena menelusuri budaya jalanan adalah kegiatan yang banyak manfaatnya, sehat, murah, dan memungkinkan kita untuk mengenal kota secara lebih dekat.”

Kesadaran Keselamatan Lalu Lintas

Brigadir Susan dari National Traffic Management Center Korlantas Polri mengingatkan peserta tentang pentingnya keselamatan lalu lintas dalam menelusuri budaya jalanan. “Semua pihak yang berada di jalan memiliki hak yang sama, baik pejalan kaki, sepeda, maupun mobil,” ujarnya. Menurut Susan, kesadaran ini bisa terbentuk melalui observasi dan partisipasi aktif. “Menelusuri budaya jalanan sekaligus menjaga keselamatan berarti memahami bagaimana ruang publik bisa menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi siapa pun,” tambahnya.

Kegiatan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pengelola ruang, dan pemerintah. Keselamatan lalu lintas dan kebersihan lingkungan menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan dalam menelusuri budaya jalanan. Dengan memotret kehidupan di jalan, peserta diharapkan bisa menjadi bagian dari upaya mengubah pola penggunaan ruang menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan.

Gabung diskusi